Selasa, 03 April 2018

konsep teori belajar al Ghazali dan Jean Piaget


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan. Sehingga suatu proses, belajar selalu mendapat tempat yang luas dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan.
Pemikiran-pemikiran baik dari Islam dan Barat selalu menjadi kajian menarik dalam dunia pendidikan. Salah satunya adalah al Ghazali dan Jean Piaget. Al Ghazali adalah sosok yang dekat dengan pendidikan hal ini terbutki dengan karena dirinya sempat menjadi tenaga pendidik di Universitas Nizom Andalusia. Sedangkan Jean Piaget adalah sosok tokoh yang lahir di abad 20 an dan memiliki pemikiran yang menarik untuk dikaji. Salah satu yang menjadi nilai dari Piaget adalah kemampuannya mengembangkan pemikiran Gestalt tentang teori kognitif. Maka, hal demikianlah yang membuat penulis tertarik untuk mengkaji dua pemikiran dari dua kubu yang berbeda.
B.  Rumusan Masalah
Rumusan masalah bertujuan guna membatasi pembahasan dalam makalah ini, agar pembahasan yang dilakukan tidak melebar:
1.    Bagaimana hakikat belajar secara umum?
Pembahasan ini meliputi pengertian dan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam belajar.
2.    Bagamaina konsep belajar dari al Ghazali dan Jean Piaget?
Pembahasan ini meliputi Biografi dan pemikiran-pemikiran dari kedua pihak dalam pendidikan
3.    Bagaimana Komparasi konsep belajar Islam dan Barat?
Pembahasan ini meliputi perbandiangan konsep belajar Islam dan Barat secara umum dan perbandingan konsep belajar dari al Ghazali dan Jean Piaget.


BAB II
HAKIKAT BELAJAR
A.  Pengertian Belajar
Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafal fakta-fakta yang tersajikan dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Orang yang beranggpan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagaian besar informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh guru.[1]
Disamping itu pula, ada pula sebagian orang yang memandang belajar sebagai latihan belaka seprti yang tampak pada latihan membaca ndan menulis. Berdasarkan persepsi semacam ini, biasanya mereka akan merasa cukup puas bila anak-anak mereka telah mampu memperlihatkan keterampilan jasmaniah tertentu walaupun tanpa pengetahuan menganai arti, hakikat dan tujuan keterampilan tersebut.
Untuk menghindari ketidaklengkapan presepsi tersebut, penulis mencoba melengkapi sebagian dar defisni mengenai belajar dengan komentar dan interpretasi seperlunya.
Menurut seorang ahli pendidikan, Dimyati Mahmud bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam diri seseorang yang terjadi karena pengalaman. Dalam hal ini juga ditekankan pada pentingnya perubahan tingkah laku, baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak.[2] Sejalan dengan pendapat tersebut Lyle E. Bourne, JR dan Bruce R. Ekstrand mendefinisikan belajar dengan “learning as a relatively permanent change in behavior traceable to experience and practice” Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang diakibatkan oleh pengalaman dan latihan.[3]
Sementara menurut Mustofa Fahmi sebagaimana dikutip juga oleh Muhibin Syah dalam bukunya Psikologi Pendidikan, mengatakan:[4]
ان التعلم عبارة عن عملية تغيير اوتحويل فى السلوك اوالخبرة
“Sesunggugnya belajar adalah (ungkapan yang menunjukkan) aktivitas (yang menghasilkan) perubahan-perubahan tingkah laku atau pengalaman”
Reber dalam kamus susunannya yang tergolong modern, Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam difinisi.[5] Pertama, belajar adalah the process of acquiring knowledge, yakni proses memperoleh pengetahuan. Pengertian ini biasanya lebih sering dipakai dalam pembahasan psikologi kognitif yang oleh sebagian ahli dipandang kurang representative karena tidak mengikutsertakan perolehan keterampilan nonkognitif.
Kedua, belajar adalah A relatively permanent change in repons potentiality which occurs as a result of reinforced practice, yaitu suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat. Dalam definisi ini terdapat empat macam istilah yang esensial dan perlu disoroti untuk memhami proses belajar.
1.    Relatively permanent, yang secara umum menetap.
2.    Reponse potentiality, kemampuan bereaksi
3.    Reinforced, yang diperkuat
4.    Practice, praktik atau latihan.
Dengan demikian dapat disimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan sikap atau tingkah laku dikarenakan pengalaman yang didapatkannya dari informasi/materi. Perubahan tersebut meliputi keterampilan jasmani, isi ingatan, cara berfikir serta laun-lain yang berkenaan dengan aspek psikis dan fisik.

B.  Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Menurut uraian H.C Witherington dan Lee J. Cronbach Bapemsi sebagaimana dinyatakan oleh Mustaqim dalam bukunya Psikologi Pendidikan mengatakan faktor-faktro serta kondisi-kondisi yang mendorong perbuatan belajar bisa diringkas sebagai berikut:
1.    Situasi belajar (kesehatan jasmani, keadaan psikis, pengalaman dasar).
2.    Penguasaan alat-alat intelektual
3.    Latihan-latihan yang terpencar,
4.    Penggunaan unit-unit yang berarti,
5.    Latihan yang aktif,
6.    Kebaikan bentuk dan sistem,
7.    Efek penghargaan (reward) dan hukuman,
8.    Tindakan-tindakan pedagogis,
9.    Kapasitas dasar.[6]

Sementara Nini Subini membagi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses belajar seseorang dalam tiga kategori, yakni faktor internal (dalam), faktro eksternal (luar) maupun faktor kecenderungan belajar, masing-masing faktro-faktor tersebut meliputi:
1.    Faktor Internal
a.    Kesehatan dan cacat tubuh,
b.    Intelegensi (kecerdasan),
c.    Bakat dan minat,
d.   Kematanga (kesiapan)
e.    Motivasi,
f.     Kelelahan,
g.    Perhatian dan sikap (perilaku).
2.    Faktor Eksternal
a.    Faktor Keluarga,
· Cara mendidik anak
· Relasi antar anggota keluarga
· Suasana rumah
· Keadan ekonomi keluarga
· Pengertian orang tua
· Latar belakang kebudayaan
b.    Faktor Sekolah
· Guru
· Metode mengajar
· Instrument/fasilitas
· Kurikulum sekolah
· Relasi guru dengan anak
· Relasi antar anak
· Disiplin sekolah
· Pelajaran dan waktu
· Standar pelajaran
· Kebijakan penilaian
· Keadaan gendung
· Tugas rumah
c.    Faktor Masyarakat
· Kegiatan anak dalam masyarakat
· Teman bergaul
· Bentuk kehidupan dalam masyarakat

Bertolak dari pendapat diatas, penulis dapat menarik sebuah kesimpulan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yang dalam hal ini penulis bagi menjadi dua kategori yakni faktor internal dan faktor eskternal yang melipui sebagai berikut.
1.    Faktor Internanl
Yang dimaksud faktor internal adalah faktor individu yang sedang melakukan belajar. Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan psikologis. Berikut akan diuraikan masing-masing dari faktro internal.
a.    Faktor Fisiologis
Faktor fisiologis adalah faktor yang disebabkan oleh keadaan fisik dari orang yang sedang belajar yang dalam hal ini adalah aspek jasmani meliputi kesehatan, kelelahan dan lain sebagainya. Kesehatan merupakan salah satu hal penting yang menetukan aktivitas sehari-hari, begitu juga halnya dengan belajar. Kondisi fisik yang baik akan berpengaruh positif dalam kegiatan belajar, begitu pula sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan mengahambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Bagaimana seseorang dapat belajar dengan baik apabila kesehatan tubunya tidak mendukung?.
Kekurangan gizi biasanya mempunyai pengaruh terhadap keadaan jasmani, mudah mengantuk, lekas lelah, lesu dan sejenisnya terutama bagi anak-anak yang usianya masih mudah, pengaruh in sangat menonjol. Faktor kelelahan juga dapat menyebabkan seseorang tidak bisa belajar secara optimal, meskipun memiliki semangat yang tinggi untuk belajar.
Kelelahan pada seseorang dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan rohani (bersifat psikis). Kelelahan jasmani terlihat dengan lemahnya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena kekacauan subtansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah menjadi tidak atau kurang lancer pada bagian-bagian tertentu.
Adapun kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala dengan pusing-pusing sehingga sulit berkosentrasi.[7]
b.    Faktor Psikologis
Faktor psikologis dalam hal ini meliputi motivasi, perhatian, kecerdasan dan lain-lain.
1.    Motivasi
Motivasi merupakan perilaku konatif sebagai sumber dinamika yang menentukan kualitas  kekuatan perilaku.[8] Motivasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menimbulkan atau meningkatkan motif.[9] Motivasi terbagi menjadi dua yaitu motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsi. Motivasi intrinsik adalah semua faktor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu, seperti gemar membac yang tidak perlu diperintah dan lain sebagainya. motivasi intrinsic memiliki pengaruh yang lebih efektif , karena motibasi intrinsic memiliki pengaruh yang lebih efektif, karena sifatnya lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi luar ekstrinsik. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah daktor yang datang dari luar diri individu tetapi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar. Seperti pujian, perarturan, tata tertib, teladan guru, orang tua dan lain sebagainya.[10]
2.    Perhatian
Perhatian adalah pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditunjukkan kepada suatu objek atau kepada sekumpulan objek-objek, perhatian juag adalah merupakan penyeleksian terhadap stuimuli yang diterima oleh dindividu yang bersangkutan. Perhatin dapat didefinisikan sebagai proses pemusatan phase-phase atau unsure-unsur pengalaman dan mengabaikan yang lainnya.[11]
Perhatian dan sikap dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang baik pada perfrma guru, pelajaran atau lingkungan sekitarnta. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap negative dalam belajar, menjadi tuga guru untuk menjadi professional dan bertanggungjawab terhadap profesi pilihannya. Dengan profesionalitas, seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik bagi anak didiknya, berusaha mengembangkan kepribadian sebagai seorang guru uang empatik, sabar dan tulus. Guru akan berusaha menyajikan pelajarannyang diampunya secara baik dan menarik sehingga membuat anak dapat mengikuti pekajaran dengan senang dan tidak menjemukan, menyakinan siswa bahwa bidang studi yang dipelajari bermanfaat bagi diri siswa.
3.    Intelegensi (Kecerdasan)
Intelegensi merupakan interaksi aktif antara kemampuan yang dibawa sejak lahir dengan pengalaman uang diperileh dari lingkungan yang menghasilkan kemampuan individu untuk memperoleh, mengingat dan menggunakan pengetahuan, mengerti makna dari konsep konkret dan ide dan kemampuan dalam menerapkan semua hal tersebut untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.[12]
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Heller, Mons dan Passow yang dikutip oleh Nini Subini, dkk dalam bukunya Psikologi Pembelajaran menyatakan bahwa orang yang memiliki intelegensi tinggi belum tentu tidak mengalami gangguan dalam belajar. Bahkan hasil penelitian yang dilakukkan oleh Golemen menyatakan bahwa setinggi-tinggi IQ seseorang hanya menyumbangkan kurang lebih 20% terhadap kesuksesan hidup seseorang dan 80%-nya ditentukan oleh faktor lain.
Faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan, sehingga terdapat perbedaan kecerdasan seseorang dengan yang lain ialah:
a.    Pembawaan: pembawaan ditentukan oelh sifat dan cirri-ciri yang dibawa sejak lahir. “Batas kesanggupan kita” yakni dapat tidaknya memecahkan suatu soal.
b.    Kematangan: tiap organ dalam tubuh mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia tleha mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing.
c.    Pembentukan: pembentukan ialah segala keadaan diluar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi.
d.   Minat dan pembawaan yang khas: minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu.
e.    Kebebasan: kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah.
2.    Faktor Ekternal
Faktor eskternal adalah yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitar pelajar, yang meliputi
a.    Lingkungan sosial
Lingkungan sosial baik sekolah maupun masyarakat dalam hal ini sangat menentukan kondisi dari seorang pelajar. Lingkungan sekolah yang yang didalam terdapat para guru, staf  dan temen-teman dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Peran guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang empatik dan memperlihatkan suri tauladan yang baik dan rajin dapat menjadi daya dorong yang positif bagi belajar siswa.
Selanjutnya lingkungan masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan dapat menjadi pengaruh bagi keadaan belajar siswa. Kondisi lingkungan yang kumuh tentu akan menyulitkan seorang belajar untuk fokus terhadap apa yang dipelajari.
Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar adalah keluarga. Kondisi dan keadaan keluarga yang baik tentu akan berdampak positif terhadap seorang anak, begitupun sebaliknya kondisi keluarga yang kacau (broken home) tentu akam lebih banyak berdampak negatif bagi kondisi anak.
b.    Lingkungan nonsosial
Faktor-faktor nonsosial dalam hal ini adalah fasilifas belajar, baik fasilitas di lingkugan sekolah maupun lingkungan keluarga. Fasilitas sekolah yang memadai mulai dari buku-buku diperpustakaan, perlengkapan laboratorium dan lingkungan sekolah yang nyaman anak membawa pengaruh motivasi yang positif bagi siswa. Sebaliknya fasilitas yang kurang memadai tentu akan berdampak kepada kemampuan hasil belajar siswa.



























BAB III
ANALISIS
(Pemikiran Konsep Belajar al-Ghazali dan Jean Piaget)
Mengingat banyaknya teori belajar baik dari Islam maupun Barat, dalam hal ini penulis mencoba membatasi tersebut, agar pembahasan mengenai teori belajar dapat difokuskan lebih dalam lagi. Dalam hal ini, penulis mencoba menyajikan pemikiran al-Ghazali dan Jean Piaget dalam teori belajarnya, karena mengingat kedua tokoh tersebut memiliki pemikiran selalu menarik untuk di kaji.
A.  Biografi Singkat al Ghazali
 Sebutan al-Ghazali bagi hujjatul Islam, al Imam ul Jalil, bukan nama aslinya. Adapun nama sejak dari kecilnya ialah Muhmmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad. Kemudian sesudah berumah tangga dan mendapat seorang putera laki-laki yang bernama Hamid, maka dia dipanggilkan “Abu Hamid”, tetapi sayang anaknya itu meninggal pada waktu kecil.[13]
Adapun mengenai sebutan al-Ghazali ada dua pendapat yang menyatakan dalam kisah: pertama, di nisbat dari asala nama desa tempatnya lahir, yaitu Gazalah. Sebab itu, sebutannya ialah al-Gazali (dengan satu “z”). kedua, berasal dari pekerjaan sehari-hari yang dihadapi dan dikerjakan oleh ayahnya, yaitu seorang penenun dan penjual kain tenun yang dinamakan “Gazzal”, karena itu panggilannya al-Gazzali (dengan dua “z”), sebagai sebutan penduduk Khurasan kepadanya.[14] Ia di lahirkan pada tahun 450 H/1058 M, [15]
Mengutip pendapat Badawi Thabana dalam Zainuddin, menulis hasil-hasil karya al-Ghazali terdapat 47 kitab,[16] yang penulis susun menurut kelompok ilmu pengetahuan sebagai berikut:
1.    Kelompok Filsfata dan Ilmu Kalam, yang meliputi:
a.    Maqashid al Falasifah
b.    Tahafut al Falasifah
c.    Al Iqtishod fi al-I’tiqad
d.    Al Munqid min al-Dhalal
e.    Al Maqashidul Asna fi Ma’ani Asmillah al-Husna
f.      Faishalut Tafriqah bainal Islam waz Zindiqah
g.    Al Qishasul Mustaqim
h.    Al-Musthadhiri
i.      Hujjatul Haq
j.      Mufsilul Khilaf fi Ushuluddin
k.    Al Muntahal fi ‘Ilmi Jidal
l.      Al Madhnun bin ‘Ala Ghairi Ahlihi
m.  Asraar ‘Ilmiddin
n.    Al Arba’in fi Ushuluddin
o.    Iljamul Awwam ‘an ‘Ilmil Kalam
p.    Al Qulul Jamil Fir Raddi ala man Ghayaral Injil
q.    Mi’yarul ‘Ilmi
r.     Al Intishar
s.     Isbantun Nadlar
2.    Kelompok  Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqh, yang meliputi:
a.    Al Basith
b.    Al Wasith
c.    Al Wajiz
d.    Khulasatul Mukhtashar
e.    Al Musytasfa
f.      Al Mankhul
g.    Syifakhul ‘Alil fi Qiyas wa Ta’lil
h.    Adz-Dzari’ah ila Makarimis Syari’ah
3.    Kelompok Ilmu Akhlak dan Tasawuf, yang meliputi:
a.    Ihya ‘Ulumuddin
b.    Mizanul Amal
c.    Kimiyaus Sa’adah
d.    Misykatul Anwar
e.    Minhajul ‘Abidin
f.      Ad-Darul Fakhirah fi Kasyfi Ulumil Akhirah
g.    Al-‘Ainis fi Wahdah
h.    Al-Qurbah Ilalahi Azza wa Jalla
i.      Akhlak al Abrar Wan Najat Minal Asrar
j.      Bidayatul Hidayah
k.    Al Mabadu wa Ghayyah
l.      Talbis al-Iblis
m.  Nashihat al Mulkk
n.    Al’Ulum al Ladunniyah
o.    Al Risalah al Qudsiyah
p.    Al-Ma’khadz
q.    Al Amali
4.    Kelompok Ilmu Tafsir yang meliputi:
a.    Yaaquutut Ta’wil fi Tafsirit Tanzil
b.    Jawahir al-Qur’an

B.  Pengertin Belajar al Ghazali
            Berkaitan dengan belajar, al-Ghazali memang tidak secara literlec mendefinisikan tentang belajar. Namun secara umum jika dilihat dari pemikirannya Hamdani Ikhsan[17] mengatakan al Ghazali memiliki pemikiran dan pandangan yang luas mengenai aspek-aspek belajar. Hal in terbukti dalam salah satu karnya yakni Ihya Ulummuddin al Ghazali memberikan bab khusus mengenai ilmu dan menempati bab paling awal. Lebih lanjut menganai Al Ghazali memandang anak sebagai suatu anugerah Allah dan sekaligus Amanah bagi orang tuanya.[18] Orang tua menurut al Ghazali memegang peran penting dalam upaya mencapai keberhasilan anak. Oleh karena itu, jika orang tua dapat melaksanakan amanah, ia akan mendapat pahala di sisi Allah dan sebaliknya.
Al Ghazali dalam Ihya Ulummuddin menyatakan bahwa belajar adalah wajib hukumnya.[19] Al Ghazali mengutip hadist Rasulullah SAW yang menyatakan tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina sekalipun.[20] Sedangkan, berkaitan dengan tujuan belajar al Ghzali menenkankan belajar sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Al Ghazali tidak membenarkan belajar dengan tujuan duniawi. Dalam hal ini al Ghzali menyatakan: “Hasil dari ilmu ilmu pengetahuan seseungguhnya adalah mendekakan diri kepada Allah, Tuhan sekalian alam dan menghubungkan diri dengan malaikat yang tinggi dan berkumpul dengan alam arwah. Semua itu adalah keagungan penghormatan secara naluriah.”[21]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dasar belajar al Ghazali adalah dasar yang bersumber dari ajaran Islam, yakni al Qur’an, as Sunnah dilengkapi dengan atsar para sahabat nabi. Adapun tujuan belajar adalah kesempurnaan insane untuk taqarub kepada Allah yang bermuara kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.[22] Pada dasarnya al Ghazali tidak melupakan kehidupan dunia, karena duni merupakan jalan menuju akhirat yang kekal, ini tentu bagi yang memandag dunia sebagai alat dan tinggal sementara, bukan bagi yang memandang sebagai tempat untuk selamanya.[23]
Berdasarkan pernyata diatas di atas, ada beberapa hal yang menjadi perhatian menarik dari al Ghazali:
1.    Belajar dan pembelajaran adalah proses memanusiakan manusia. Prinsip in sesuai dengan aliran psikologi humanism, yang menawarkan prinsip belajar humanistik, yaitu: manusia mempunya kemampuan untuk belajar secara alami, belajar berarti jika mata pelajaran sesuai dengan maksudnya sendiri, belajar akan bermakna jika siswa melakukannya bertanggung jawab, berinisiatif, percaya diri, kreatif, mawas diri, intropeksi dan terbuka.
2.    Waktu belajar adalah seumur hidup, dimulai sejak lahir hingga meninggal dunia.[24]
3.    Belajar adalah sebuah pengalihan ilmu pengetahuan.[25]
C.  Prinsip-prinsip Belajar al Ghazali
Adapun prinsip-prinsip belajar menurut al Ghazali adalah sebagai berikut:
1.    Belajar merupakan proses jiwa.
2.    Belajar menuntut kosentrasi.
3.    Belajar harus didasari sikap tawadlu’.
4.    Belajar bertukar pendapat hendaknya harus mantap dasarnya.
5.    Belajar harus mengetahui nilai dan tujuan ilmu yang sedang dipelajari.
6.    Belajar secara bertahap.
7.    Tujuan belajar adalah membentuk akhlak yang mulia.[26]

D.  Metode Belajar al Ghazali
Al Ghazali mengemukakan bahwa dalam mendidikan anak hendaknya menggunakan beberapa metode. Metode yang bervarias akan membangkitkan motivasi belajar dan bisa menghilangkan kebosanan selain itu pendidikan hendaknya memberikan hukuman dan dorongan. Dorongan bisa dengan pujian, hadiah dan penghargaan kepada peserta didik, sedangkan hukuman hendaknya bersifat mendidik dengan maksud memperbaiki perbuatan yang salah agar tidak menjadi kebiasaan.[27]
Rusd Abidin[28] membagi metode pendidikan al Ghazali menjadi dua ketegori yakni:
1.    Metode khusus pendidikan agama
Metode pendidikan agama menurut al Ghazali, pada prinsipnya dimulai dengan  hafalan dan pemahaman, kemudian dengan keyakinan dan pembenaran, setelah itu penegakan dalil-dalil dan keterangan yang menunjang penguatan akidah, yang demikian ini merupakan pantulan dari merupakan pantulandari sikap hidupnya yang sufi dan tekun beribadah. Dari pengalaman pribadinya, al Ghazali menemukan cara untuk mencegah manusia dari keraguan terhadap persoalan agama ialah adanya keimanan terhadap Allah, menerima dengan jiwa yang jernih dan akidah yang pasti pada usia sedini mungkin. Kemudian mengkokohkan dengan argumentasi yang didasarkan atas pengkajian dan penafsiran al-Qur’an dan hadist-hadist secara mendalam disertai dengan beribadah, bukan melalui ilmu kalam atau lainnya yang bersumber pada akal.

2.    Metode khusus pendidikan akhlak
Uraian al Ghazali tentang metodik praktis dan etodik khusus membentuk akhak mulia menunjukkan bahwa untuk mengadakan perubahan akhlak tercela anak adalah menyuruhnya melakukan perbuatan yang sebaliknya. Hal ini dapat dimengerti karena penyakit badan atau raga, maka obatnya adalah membuang penyakit itu.

E.  Proses Belajar al Ghazali
Berkaitan dengan belajar, seorang harus memperhatikan proses perkembangan psikologis anak, yang menurut al Ghazali terdiri dari  tahapan-tahapan sebagai berikut:
1.    Al Janin, yaitu tingkat perkembangan anak ketika berada dalam kandungan dan setelah ditiupkan roh pada umur empat bulan. Pada masa ini orang tua dapat mempersiapkan pembelajaran prenatal.
2.    Al Thifl, yaitu tingkatan anak yang bida dicapai dengan memperbanyak latihan dan kebiasan sehingga mengetahhi aktifitas dan perilaku yang baik dan buruk.
3.    At Tamyis, yaitu tingkatan anak yang dapat membedakan sesuatu yang baik dan buruk, bahkan lebih jauh dari itu, akalnya telah dapat menangkap dan memagami ilmu dharuri.
4.    Al ‘aqli, yaitu tingkatan yang dicapai seseorang yang sempurna akalnya bahkan telah berkembang akalnya sehingga dapat menguasai ilmu dharuri.
5.    Al Awliya dan al Anbiya, yaitu tingkat tertinggi dari perkembangan manusia. Pada tingkatan ini seseorang dapat memperoleh ilmu melalui wahyu sebagaimana seorang nabi dan juga melalui ilham dan ilmu ladunni.[29]

Berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan belajar, al Ghazali cenderung memliki paham/aliran konvergensi[30]. Berakitan paham ini al Ghazali menyatakan bahwa setiap manusia lahir membawa fitrah sebagai potensi dasar yang selanjutnya ditentukan oleh lingkungan. Oleh karenanya orang tua diharapkan dapat mengemban amanah, sebab jiwa yang suci ini akan berkembang sesuai dengan bimbingan orang tuanya. Manusia sejak lahi telah dibekali dengan fitrah berupa kemampuan dasar untuk berbuat, maka sesungguhnya manusia memiliki potensi untuk menjadi manusia berperangai baik atau perangai buruk.[31]
Tema sentral dari pandangan al Ghazali berkaitandengan proses belajar adalh bahwa belajar harus diarahkan kepad upaya tazkiyah al-nafs,  yang merupakan konsep pembinaan mental spiritual, pembentukan jiwa dan mental sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian konsep tazkiyah al nafs dalam belajar ditunjukkan agar anak mempunyai perkembanan kejiwaan yang Islami serta membentuk interaks dan hubungan yang harmonis antara anak didik dengan sesama manusianya dan dengan Tuhanya.[32]

Tahapan selanjutnya penulis mencoba memaparkan dari teori belajar barat yang dalam ini penulis mencoba mensajika pemikiran dari Jean Piaget. Berikut adalah ulasannya
A.  Biografi Jean Piaget
Nama Jean Piaget lebih sering dihubungkan dengan struktualisme dan epistemologi genetik, barangkali lebih terkenal sebagai nama seorang tokoh besar di bidang psikologi perkembangan.[33] Jean Piaget dilahirkan di Neuchatel  di wilayah Swiss pada 9 Agustus 1896 yang berbahasa Prancis dan meninggal pada 16 September 1980. Ayahnya, Arthur Piaget, adalah seorang professor sastra Abad pertengahan di Universitas Neuchatel. Piaget adalah seorang anak yang yang teralalu cepat menjadi matang, yang mengembangkan minatnya dalam bidang Biologi dan dunia pengetahuan alam, khusunya tentang moluska (kerang-kerangan), dan bahkan menerbitkan sejumlah makalah sebelum ia lulus SMA. Malah kariernya yang panjang dalam penelitian ilmiah dimulai ketika ia baru berusia 11 tahun, dengan diterbitkannya makalah pendek pada tahun 1907 tentang burung gereja Albino. Sepanjang kariernya, Pieaget menulis lebih dari 60 buku dan ratusan artikel.[34]
Jean Piaget memperoleh gelar Ph.D dalam ilmu alamiah dari Universitas Neuchatel, dan juga belajar sebentar di Universitas Zurich. Selama masa ini ia menerbitkan dua makalah yang memperlihatkan arah pemikirannya kala itu, tetapi yang belakang ditolaknya karena dianggap karya tulis seorang anak remaja.[35]
Jean Piaget menjabat sebagai professor psikologi di Universitas Geneva dari 1929 sampai 1975 dan ia paling terkenal karena menyusun kembali teori perkembangan kognitif ke dalam serangkaian tahap, memperluas karya sebelumnya dari James Mark Baldwin, menjadi empat tahap yang kurang lebih sama  dengan (a) masa infacy, (b) pra-sekolah, (c) anak-anak dan (d) remaja. Masing-masing tahap mewakili pemahaman sang anak tentang realitas pada masa itu, dan masing-masing kecuali yang terkahir adalah suatu perkiraan (approximation) tentang realitas yang tidak memadai. Jadi perkembangan dari satu tahap ke tahap yang lainnya disebabkan oleh akumulasi kesalahan di dalam pemahaman sang anak tentang lingkungannya,  akumulasi ini pada akhirnya menyebabkan suatu ketidakseimbangan kognitif yang perlu ditata ulang oleh sturuktur pemikiran.[36]
Karya-karya Jean Piaget antara lain adalah:[37]
1.    Introductioan a I’Epistemologie Genetique
2.    La Psychologie de I’intelegence.
3.    Logique et connaissance scientifique
4.    The Growth of Logical Thinking from Childhood to Adolescence.
5.    The Early Growth of Logic in The Child: Classification and Seriation.
6.    The Child’s Conception of the World.
7.    The Moral Judgement of the Child.
8.    The Origin of Intelligence in Childern.
9.    The Child’s Construction of Reality.
10.     Biology and Knowledge.
11.     Sociological Studies.
12.     Studies in Reflecting.

Karya-karya lain:[38]
1.    Mathematical Epistemology and Psychology.
2.    Les Trois Structures Fondamentales de la vie Psychique: Rythme, Regulation et groupment.
3.    Ou va I’education?
4.    Psychology of Intelligence.
5.    Logic and Psychology.
6.    Play, Dream and Imitation in Childhood.
7.    Necessite et Signification des Recherches Comparatives en Psychologie Genetique. Journal International de Psychologie.
8.    Structuralism.
9.    Psychology and Epistemology: Towards a Theori of Knowledge.
10.     Insights and Illusions of Philosophy.
11.     Experiments in Contradiction.
12.     The Place of the Sciences of Man in the System of Sciences.
13.     The Origin of the Idea of Chance in Children.
14.     The Grasp of Consciousness.
15.     Success and Understanding.
16.     Behaviour and Evolution.
17.     Adaption and Intellegence.
18.     Les Formes Elementaires de la Dialectique.
19.     Intellegence and Affectivity. Their Relationship During Child Development.
20.     Possibility and Necessity.
21.     Commentaru on Vygostky. New Ideas in Psychology,
22.     Psychogenesis and the History of Science.
23.     Towards a Logic of Meanings.
24.     The Psychology of the Child.
25.     The Child’s Conception of Space.

B.  Konsep Belajar Jean Piaget
Jean Piaget adalah seorang pakar psikologi kognitif terkemuka.[39] Dari sini penulis dapat menarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa corak berfikir dari Jean Piaget tidak jauh dari teori kognitif. Psikologi Kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar “Gestalt”, sedangkan peletak dasar Psikologi Gestalt adalah Mex Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving.[40] Sedangkan Piaget memberikan pengembangan lebih lanjut mengenai teori belajar kognitif yakni dengan dengan nama “Cognitve-development”, dia meneliti mengenai tahap-tahap perkembangan pribadi serta umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individual.[41]
Menurut teori kognitif belajar pada asasnya adalah persitiwa mental, bukan peristiwa behavioral[42] (yang bersifat jasmaniah) meskipun hal-hal yang bersifat behavioral tampak lebih nyata dalam hampir setiap peristiwa belajar siswa. Secara lahiriah, seorang anak yang sedang belajar membaca dan menulis, misalnya tentu menggunakan perangkat jasmaniah (dalam hal ini mulut dan tangan) untuk mengucapkan kata dan menggoreskan pena. Akan tetapi, perilaku mengucapkan kata-kata dna menggorekan pena yang dilakukan anak tersebut bukan semata-mata respons atas stimulus yang ada, melainkan yang lebih penting karen dorongan mental yang diatur otaknya. Sehubungan dengan hal ini, Piaget menyimpulkan “children have a built-in desire to learn”.[43]
Menurut Piaget pendidikan adalah sebagai penghubung dua sisi, di satu sisi individu yang sedang tumbuh dan disisi lain merupakan nilai sosial, intelektual, dan moral yang menjadi tanggungjawab pendidik untuk mendorong individu tersebut. Individu berkembang sejak lahir terus berkembang. Perkembangan tersebut bersifat klausal, namun juga terdapat komponen normatif, dan juga pendidikan yang menuntut nilai. Nilai ini juga norma yang berfungsi sebagai penunjuk dalam mengidentifikasi apa yang diwajibkan, diperbolehkan, dan dilarang. Jadi pendidikan adalah hubungan normatif antara individu dan nilai.[44]
C.  Proses Belajar Menurut Jean Piaget
Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan pemberian nama makna oleh siswa melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur kognitifnya.[45] Dalam hal ini Jean Piaget memandang bahwa proses berfikir sebagai aktifitas gradual dan fungsi intelektual, dari konkret menuju abstrak.[46]
Berkenaan dengan proses belajar piaget melihat perkembangan intelektual sebagai proses membangun model realist dalam diri. Dalam rangka memperoleh informasi mengenai cara membangun gambaran batin tentang dunia luar, sebagian besar masa kecil kita dihabiskan untuk aktif mempelajari diri kita sendiri dan dunia luar. Piaget menyebutkan, dunia mental anak terdiri dari dua model struktur, yaitu pola (schemas) dan operasi (operation).[47]
Piaget menggunakan istilah “Scheme” secara “Interchangeably” dengan istilah struktur. Scheme adalah pola tingkah laku yang dapat diulang. Scheme berhubungan dengan:[48]
1.    Reflek bawaan; misalnya bernafas, makan, minum.
2.    Scheme mental; misalnya pola tingkah laku yang sukar diamatai seperti sikap (Scheme of classification) dan pola tingkah laku yang dapat diamati (scheme of operation).
Sedangkan berhubungan dengan Intelegensi Piaget mengatakan terdiri dari tiga aspek, yaitu:[49]
1.    Struktur disebut juga “scheme” seperti yang dikemukakan diatas.
2.    Isi disebut juga “content” yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu menghadapai sesuatu masalah.
3.    Fungsi disebut juga “function” yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai kemajuan intelektual. Fungsi itu sendiri terdiri dari dua macam fungsi “invariant” yaitu organisasi dan adaptasi.[50]
Kesimpulannya menurut Piaget bahwa belajar bukan hanya sebatas mengingat. Bagi siswa, untuk benar-benar mengerti dan dapat menerapkan ilmu pengetahuan mereka harus benar-benar memecahkan masalah, menemukan sesuatu bagi dirinya dan selalu bergulat dengan dengan ide-ide. Maka, dalam hal ini tugas pendidik bukannya hanya sebatas menuangkan atau menjejalkan informasi ke dalam benak siswa, melainkan bagaimana konsep-konsep penting dan sangat berguna tersebut tertanam kuat dalam benaknya.
D.  Tahap Perkembangan Menurut Jean Piaget
Berdasarkan jenis kesalahan logika yang dibuat anak pada usia yang berbeda-beda, Piaget mengemukan tahap perkembangan. Menurut  Piaget perkembangan terdiri dari empat tahap:[51]
1.    Tahap sensorimotor: 0-2 tahun,
2.    Tahap praoperasional: 2-7 tahun
3.    Tahap operasional konkret: 7-11 tahun
4.    Tahap operasional formal: 11 tahun ke atas.
Lebih lanjut Piaget mengatakan bahwa kita semua melalui keempat tahap tersebut, meskipun mungkin setiap tahap dilalui dalam usia yang berbeda. Setiap tahap yang dimasuki ketika otak kita sudah cukup matang untuk memungkinkan logika jenis baru atau operasi. Berikut adalah uraian singkat tentang jenis pemikiran yang terjadi pada setiap tahap tersebut.
Tahap Sensorik
Bayi lahir dengan reflex bawaan, skema modifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks. Pada masa ini, anak belum mempunyai konsepsi tentang objek tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan inderanya.[52] Piaget percaya, selama dua tahun pertama kehidupan kita, fokus utama kita tertuju pada sensasi fisik dan belajar mengkoordinasikan tubuh kita.[53]
Tahap Praoperasional
Pada tahap ini pemikiran anak didasarkan pada pemikiran lambing yang menggunakam bahasa sensasi fisik, tetapi anak belum banyak mengerti tentatng aturan logika.[54]
Tahap Operasional Konkret
Pada tahap ini anak sudah cukup matang untuk pemikiran logika atau operasi, tetapi hanya objek fisik yang ada saat ini. Dalam tahap ini, anak kehilangan kecendrungannya terhadap animism dan artifisialisme. Egosentrinya berkurang dan kemampuannya da;am tugas-tugas konservasi menjadi lebih baik. Namun tanpa objek fisik, anak pada tahap ini masih mengalami kesulitas besar dalam menyelesaikan tugas-tugas logika.[55]
Tahap Operasional Formal
Pada tahap ini anak telah mempunyai pemikiran yang abstrak pada bentuk-bentuk lebih kompleks. Falvel sebagaiman dalam Wasty memberikan ciri sebagai berikut:[56]
a.       Pada pemikiran anak remaja adalah hypothetico-deductive.
Ia telah dapat membuat hipotesis-hipotesis dari suatu probelma dan membuat keputusan terhadap problema itu secara tepat, tetapi anak kecil belum dapat menyimpulkan apakah hipotesisnya ditolak atau diterima.
b.      Periode propositional thinking
Remaja telah dapat memberikan statmen atau proposisi berdasarkan pada data yang konkret. Tetapi kadang-kadang ia berhadapan dengan proporsi yang bertentangan dengan fakta.
c.       Periode combinatorial thinking
Bila rema itu mempertimbangkan tentang pemecahan problem ia telah dapat memisahkan faktor-faktor yang menyangkut dirinya dan mengombinasi faktor-faktor itu.











BAB IV
KOMPARASI TEORI BELAJAR ISLAM DAN BARAT
Pada bab ini penulis akan mencoba menyajikan mengenai komparasi teori belajar Islam dan Barat secara umum dan juga komparasi teori belajar khusus yakni mengacu kepada konsep belajar al Ghazali dan Jean Piaget. Berikut adalah ulasannya:
A.  Komparasi Antara Konsep Belajar Islam dan Barat
Pengetahuan yang dalam padangan Islam diistilah dengan al-‘ilmu, yang mempunyai pengertian: pertama, pengetahuan yang berasal dari wahyu Allah untuk mengenalnya, kedua pengetahuan yang diperoleh manusia itu sendiri, baik melalui pengalaman (empiris), rasional dan intuisi. Sedangkan pengetahuan dalam pandangan Barat adalah suatu fakta empiris atau gagasan rasional yang dibangun oleh individu itu sendiri melalui pengalamannya.[57]
Dari dua pandangan diatas, maka dapat diketahui bahwa pengetahuan dalam Islam  tidak hanya mengakui bahwa ilmu harus dibuktikan secara empiris dan rasio, melainkan juga terdapat pengetahuan yang bersifat transenden yang tidak dapat dijangkau indera maupun akal manusia. Hal ini tentu saja berbeda dengan pandangan Barat, yang mana pengatahuan Barat bersifat rasional empiris, artinya pengetahuan harus dapat dibuktikan secara empiris dan dapat diterima oleh rasio manusia.
Ilmu pengetahuan di dunia Islam bersifat aksiologi[58]. Islam tidak mengehendaki keterpisahan ilmu dan sistem nilai, seperti yang terjadi di Barat, ilmu adalah fungsional ajaran wahyu. Islam meletakkan wahyu sebagai paradigma agamawi yang mengakui eksistensi Tuhan, tidak hanya sebatas keyakinan semata, tetapi diterapkan dalam kontruksi ilmu pengetahuan. Islam menolak science for science dan menghendaki terlibatnya moralitas dalam pencarian kebenaran ilmu. Sedangkan ilmu pengetahuan di Barat lebih menekankan dimensi epistemologi[59]. Filsafat ilmu menekankan pada proses atau metode ilmiah yang dilewati sebagai sarana untuk mencapai kebenaran. Asumsinya, kebenaran sangat tergantung kepada metode yang digunakan untuk sampai kepada pengetahuan yang absah, sehingga metode yang digunakan pun harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.[60]
Berdasarkan penjelasan diatas, maka konsep belajar Islam dan Barat adalah sebagai berikut:
No
Aspek
Konsep Belajar Islam
Konsep Belajar Barat
1.
Konsep Belajar
Prose pencarian pengetahuan dengan mengoptimalkan potensi (fitrah) yang termanifestasi dalam perbuatan demi terbentuknya insan kamil.
Perubahan tingkah laku atau watak yang menetap sebagai hasil pengalaman dan latihan bukan karena proses pertumbuhan dan kematangan
2.
Tujuan Belajar
Tercapainya tujuan hidup manusia, yaitu: mendekatkan diri kepada Allah dan mampu mengaktualisasikan potensi diri demi kemaslahatan bersama (sebagai khalifah)
Untuk memecahkan masalah
3.
Sasaran belajar
Aspek kognitif, afektif, psikomotorik dan spiritual
Hanya terpusat pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik
4.
Makna teori belajar
Sekumpulan prinsip dan gejala yang berkaitan dengan peristiwa belajar yang tidak hanya bersifat empiris kuantitaif tetapi juga normatif kualitatif
Sekumpulan prinsip dan gejala yang berkaitan dengan peristiwa belajar yang bersifat empiris-materialistik-kuantitatif.
5.
Pandangan tentang belajar
a.       Konsep belajar akhlak adalah pembentukan perilaku yang mulia melalui taqlid dan ta’wid.
b.      Konsep belajar fikr adalah pencarian pengethaun dan kebenaran yang mampu menerobos dunia ukhrawi.
c.       Konsep belajar insaniyah adalah pembelajaran dengan kebebasan yang bertanggung jawab.
Perbuatan mental hanya bersifat duniawi
6.
Pandangan tentang peserta didik
Peserta didik bersifat baik, aktif, dan dinamis serta punya kebebasan untuk mengaktualisasikan fitrahnya dengan tetap memperhatikan etika dalam belajar sebagai wujud penghormatan pada pendidik.
Peserta didik bersifat aktif yang dapat memproses informasi
7.
Pandangan tentang pendidik
Pendidikan berperan sebagai role model (murrabi), transfer of values (muadib), transfer of knowledge (mu’alim) sebagai fasilitator dan motivator
Pendidik sebagai fasilitator
8.
Sumber pengetahuan dalam belajar
Sumber pengetahuan selain kognisi adalah wahyu (al-Qur’an) dan al-Hadist
Sumber pengetahuan hanya bersifat kognisi
9.
Perkembangan bahas pelajar
Kemampuan bahasa merupakan kemampuan manusia yang membedakan dengan makhluk lain
Manusia memiliki kemampuan dan kesiapan untuk mempelajari bahasa dengan sendirinya
10.
Perkembangan moral pelajar
Sumber kebenaran dan kesalahan ditentukan oleh al-Qur’an dan al-Hadist
Kebenaran dan kesalahan ditentukan oleh kesepakatan manusia.
Sumber: Nadyana Rizqi dalam Konsep Belajar dalam Pandangan Islam dan Barat Serta Aplikasinya dalam Pendidikan Agama Islam.



B.  Komparasi antara konsep belajar al Ghazali dan Jean Piaget
Adapun komparasi antara konsep belajar al Ghazali dan Jean Piaget adalah sebagai berikut:
1.    Pengerian belajar
a.    Al Ghazali
Belajar merupakan proses upaya mendekatkan diri kepada Allah, dan tidak hanya melulu untuk tujuan duniawi.
b.    Jean Piaget
Belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan (peristiwa mental bukan peristiwa behavioral).
2.    Metode belajar
a.    Al Ghazali
Al Ghazali membagi menjadi dua strategi, yaitu: pertama, metode khusus pendidikan agama yakni pada prinsipnya dimulai dengan  hafalan dan pemahaman, kemudian dengan keyakinan dan pembenaran, setelah itu penegakan dalil-dalil dan keterangan yang menunjang penguatan akidah. Kedua, metode pendidikan khusus membentuk akhak mulia menunjukkan bahwa untuk mengadakan perubahan akhlak tercela anak adalah menyuruhnya melakukan perbuatan yang sebaliknya. Hal ini dapat dimengerti karena penyakit badan atau raga, maka obatnya adalah membuang penyakit itu.
b.    Jean Piaget
Coorperative learning. Strategi ini membuat siswa lebih mudah menemukan secara komprehensif konsep-konsep yang sulit jika mereka mendiskusikannya dengan siswa lain tentang masalah yang dihadapi, siswa belajar dalam pasangan-pasangan atau kelompok untuk salinf membantu memcahkan masalah yang dihadapi.
3.    Sumber belajar
a.    Al Ghazali
Al Qur’an dan Sunnah serta atsar para sahabat.
b.    Jean Piaget
1)   Pengetahuan mutlak diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam diri seseorang, yaitu melalui pengalaman yang diterima panca indera.
2)   Pengetahuan diperoleh melalui pengalaman.
4.    Proses berfikir dalam belajar
a.    Al Ghazali
Berkaitan dengan belajar, seorang harus memperhatikan proses perkembangan psikologis anak, yang menurut al Ghazali terdiri dari  tahapan-tahapan sebagai berikut:
1)   Al Janin
2)   Al Thifl
3)   At Tamyis
4)   Al ‘aqli
5)   Al Awliya dan al Anbiya
b.    Jean Piaet
Berdasarkan jenis kesalahan logika yang dibuat anak pada usia yang berbeda-beda, Piaget mengemukan tahap perkembangan. Menurut  Piaget perkembangan terdiri dari empat tahap:
1)   Tahap sensorimotor: 0-2 tahun,
2)   Tahap praoperasional: 2-7 tahun
3)   Tahap operasional konkret: 7-11 tahun
4)   Tahap operasional formal: 11 tahun ke atas.
5.    Tujuan belajar
a.    Al Ghazali
1)   Upaya mendekatakan diri kepada Allah SWT.
2)   Membina mental spiritual dan membentuk  jiwa siswa sesuai ajaran Islam.
b.    Jean Piaget
1)   Memotivasi siswa bahwa belajar adalah tanggungjawab siswa itu sendiri.
2)   Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri jawabannya.
3)   Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian atau pemahaman konsep secara lengkap.
4)   Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
6.    Pandangan terhadap pendidik
a.    Al Ghazali
1)   Pendidik berfungsi sebagai motivator.
2)   Pendidik mempunyai peran penting dalam memperbaiki tingkah laku peserta didik.
b.    Jean Piaget
1)   Pendidik berfungsi sebagai mediator dan fasilitator yang membantu proses belajar murid.
2)   Pendidik mempunyai peranan penting dalam kelas.
3)   Pendidik tidak menuangkan/memasukkan sejumlah informasi dalam benak siswa tetapi juga mengusahakan bagaimana konsep-konsep penting tertanam kuat dalam benak siswa.
7.    Pandangan terhadap peserta didik
a.    Al Ghazali
Peserta didik dipandangan sebagai pribadi yang perlu dibentuk, yang dalam hal ini pembentuka harus sesuai dengan ajaran Islam.
b.    Jean Piaget
Peserta didik dipandang sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu dan bersifat aktif (dapat mengintrepretasikan informasi ke dalam pikirannya).






















BAB V
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Setelah melakukan pembahasan di atas, perlu kiranya penulis memberikan kesimpulan atas apa yang penulis kemukakan.
1.    Pada hakikatnya belajar adalah proses perubahan sikap atau tingkah laku dikarenakan pengalaman yang didapatkannya dari informasi/materi. Perubahan tersebut meliputi keterampilan jasmani, isi ingatan, cara berfikir serta laun-lain yang berkenaan dengan aspek psikis dan fisik. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah:
a.    Faktor Internanl
·      Faktor Fisiologis
·      Faktor Psikologis
1)   Motivasi
2)   Perhatian
3)   Intelegensi (Kecerdasan)
b.    Faktor Ekternal
1)   Lingkungan sosial
2)   Lingkungan nonsosial meliputi fasilifas belajar, baik fasilitas di lingkugan sekolah maupun lingkungan keluarga
2.    Konsep Belajar al Ghazali dan Jean Piaget
a.    Al Ghazali
Al Ghazali berpandangan bahwa belajar pada hakikatnya adalah upaya untuk mendekatakan diri kepada Allah, bukan untuk tujuan duniwai semata-mata.
b.    Jean Piaget
Belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan (peristiwa mental bukan peristiwa behavioral).
3.    Perbandingan paling mendadasar antara teori belajar Islam dan Barat adalah pada tujuan dari belajar itu sendiri. Kencenderungan dalam kosep belajar Islam adalah bahwa tujuan belajar adalah bermuara kepada pengakuan sikap tunduk terhadap Tuhan dan beribadah kepadanya. Sedangkan dalam konsep Barat bahwa tujuan belajar semata-mata upaya mengejar materi yakni sikap keduniawian.

DAFTAR PUSTAKA
Surya, Mohammad.  Psikologi Guru: Konsep dan Aplikasi, Bandung: Alfabeta, 2013.
Abidin, Ibnu Rusd. Pemikiran al Ghazali Tentang Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.
Ahmad, Zainal Abidin. Riwayat Hidup Imam al-Ghazali, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
Al Ghazali, AbU Hamid. Ihya Ulummuddin wa bi dhaylih kitab al mughni ‘an hamal al asfar fi al asfar,,  Beirut: Dar al Fikr.
Ibda, Fatimah. Perkembangan Kognitif: Teori Jean Piaget, dalam  Jurnal Intelektual, Vol. 3, No. 1.  Januari-Juni 2015.
Ikhsan, Hamdani Ikhsan dan Fuad .Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001.
Jamaris, Martini. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, Bogor: Ghalia Indonesia, 2013.
Jarvis, Matt. Teori-teori Psikolog: Pendekatan Modern Untuk Memahami Perilaku, Perasaan dan Pikiran Manusia, Bandung: Nusamedia, 2009.
Jaya, Yahya. Spiritualisme Islam Dalam menumbuhkankembangkan Kepribadian dan Kesehatan Mental. Jakarta: Ruhana, 1994.
Khairani, Makmun. Psikologi Belajar, Yogyakarta: Aswaja Presindo, 2013.
Makmun, Konsep Pengajaran Antara al Ghazali dan Jhon Dewey, Malang: UIN Malang, 2008.
Muhajir, Asa’ril .Studi Komparasi Pemikiran Al Ghazali dan Jhon Lock Tentang Pendidikan Anak, dalam Jurnal Dinamika, Vol. No. 2m Oktober, 2003.
Mustaqim. Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012
Reber, Arthur. The Penguin Dictionary of Psychology, Penguin Book: London, 2001.
Rizqi, Nadyana. Konsep Belajar dalam Pandangan Islam dan Barat Serta Aplikasinya dalam Pembelajaran Pendidikan Islam. Malang: UIN Malang, 2008.
Sagala, Saiful. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta, 2005.
Santrock, Jhon W. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Prenada Media, 2007.
Subini, Nini. Psikologi Pembelajaran, Yogyakarta: Mentari Pustaka, 2012
Sumanto, Wasty. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 1990.
Sumanto, Wasty. Psikologi Pendidikan: Landasar Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 1998.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999.
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan: Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995.
Veuger, Jacques. Psikologi Perkembangan, Epistemologi Genetik dan Strukturalisme menurut Jean Piaget. Yogyakarta: Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi, 1983.
Woolfok, Anita E. Educational Psychology, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Zainuddin dkk. Seluk-beluk Pendidikan dari al-Ghazali, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.












KOMPARASI TEORI BELAJAR ISLAM DAN BARAT
(Telaah Terhadap Konsep Belajar Imam al Ghazali dan Jean Piaget)


MAKALAH TEORI PEMBELAJARAN
Dosen Pengampu: Dr. Mahmud Arief, M. Ag
images-1.png








SYAHRIZAL AFANDI
NIM. 1720401007





MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2018


[1] Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), hlm. 89.
[2] Dimyati Mahmud dalam Nini Subini, Psikologi Pembelajaran, (Yogyakarta: Mentari Pustaka, 2012), hlm. 83.
[3] Lyle E. Bourne, JR, Bruce RE dalam H. Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 33.
[4] Mustofa Fahmi, Ibid,,, hlm. 34.
[5] Reber dalam Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Baru,,, hlm. 91.
[6] HC. Whiterington, Lee. J. Cronbach Bapesmi dalam H. Mustaqim, Psikologi Pendidikan,,, hlm. 70
[7] Nini Subini dkk, Psikologi Pembelajaran,,, hlm. 90.
[8] Mohammad Surya, Psikologi Guru: Konsep dan Aplikasi, (Bandung: Alfabeta, 2013), hlm. 50.
[9] Motif merupakan sumber kekuatan perilaku yang mendorong terjadi perilaku, dalam hal ini motif adalah motor penggerak dinamika perilaku individu dalam mencapai tujuan. lihat Mohammad Surya, Psikologi Guru: Konsep dan Aplikasi,,, hlm. 50-52.
[10] Nini Subini dkk, Psikologi Pembelajaran,,, hlm. 88-89. Lihat juga Anita E. Woolfok, Educational Psychology, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 227. Dalam pengertian yang lain motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendpatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan), sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi (tujuan itu sendiri), lihat Jhon W. Santrock, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media, 2007), hlm. 514.
[11] Makmun Khairani, Psikologi Belajar, (Yogyakarta: Aswaja Presindo, 2013), hlm. 154. Bila dilihat dari sedikitnya kesadaran yang menyertai aktivtas, perhatian dibedakan menjadi dua yaitu, perhatian intensif dan perhatian tidak intensif, sedangkan bila ditinjau dari timbulnya perhatian dibedakan menjadi perhatian spontan dan perhatian reflektif, bila dipandang dari luasnya objek, perhatian bisa dibagi menjadi perhatian konserfatif dan perhatian distributif, lihat H. Mustaqim, Psikologi Pendidikan,,, hlm. 72-73.
[12] Martini Jamaris, Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2013), hlm. 91.
[13] Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Imam al-Ghazali, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm. 27.
[14] Ibid,,, hlm. 28.
[15] Zainuddin dkk, Seluk-beluk Pendidikan dari al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 7.
[16] Ibid,,, hlm. 19. Dalam keterangan lain Dr. Badawi Thabana menyatakan ada sekitar 300 buah karangan al-Ghazali, namun hanya beberapa yang dapat diselamatkan, dikarenakan mengamuknya bangsa Mongol pada abad ke-13 di Andalusia. Lihat Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Imam al-Ghazali,,, hlm. 58.
[17] Hamdani Ikhsan dan Fuad Ikhsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001), hlm. 235.
[18] Lihat QS. Al-Anfal [8]: 28. QS. Al-Kahfi [18]: 46. QS.  Al-Furqan [25]: 74. QS.  At Taghaabun [64]: 14.
[19] Hal tersebut berdasarkan hadist.طلب العم فريضة على كل مسلم  lihat Imam Abi Hamid al Ghazali Ihya Ulummuddin wa bi dhaylih kitab al mughni ‘an hamal al asfar fi al asfar,,  (Beirut: Dar al Fikr), hlm. 23.
[20] Ibid,,,  hlm 23.
[21] Ibid,,, hlm. 13
[22] Makmun, Konsep Pengajaran Antara al Ghazali dan Jhon Dewey, (Malang: UIN Malang, 2008), hlm. 102.
[23] Imam Abi Hamid al Ghazali, Ihya Ulummuddin,  juz III,,, hlm. 12.
[24] Al Ghazali memberikan perhatian khusus untuk mencapai keberhasilan anak, menurutnya orang tua sebagai pembelajar anak yang pertama memulai prosesnya pembelajaranya sebelum anak itu lahir, lebih lanjut al Ghazali mengungkapkan dalam Adab al Mu’asyarah (adab pergaulan suami istri) memberikan perhartian mengenai hubungan suami istri yang benar menurutu sunnah Rasul, lihat Imam Abi Hamid al Ghazali, Ihya Ulummuddin,  juz II,,,hlm. 43.
[25] Definisi tersebut adalah pendapat Arthur Reber, yang menjembatani dua kutub aliran belajar yaitu kaum kognitis dan behavioris. Lebih lanjut lihat Arthur Reber, The Penguin Dictionary of Psychology (Penguin Book: London, 2001).
[26] Al Ghazali menyebutkan akhlak mulia dengan al Munjiyat, yaitu segala sifat terpuji yang membawa keselamatan bagi yang memimilikinya baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan kebalikannya, ia sebut  al Mukhlikat, yaitu akhlak tercela yang membawa orang yang memimilikinya kepada kehancuran dan kebinanasan. Lihat  Imam Abi Hamid al Ghazali, Ihya Ulummuddin,  juz I,,, hlm. 53.
[27] Ali al-Jumbulati dalam Makmun, Konsep Pengajaran Antara al Ghazali dan Jhon Dewey,,,hlm. 110.
[28] Ibnu Rusd Abidin, Pemikiran al Ghazali Tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 89
[29] Asa’ril Muhajir, Studi Komparasi Pemikiran Al Ghazali dan Jhon Lock Tentang Pendidikan Anak, dalam Jurnal Dinamika, Vol. No. 2m Oktober, 2003, hlm. 204.
[30] Aliran konvergensi adalah aliran yang menyakini bahwa perkembangan pada anak dipengaruhi oleh faktor hereditas/pembawaan dan lingkungan. Dalam hal ini pembawaan menumbuhkan fungsi-fungsi dan kapasitas itu. Baik stimuli lingkungan berinteraksi saling mempengaruhi untuk menimbulkan proses pertumbuhan dan perkembanga. Lihat Wasti Sumanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hlm. 61.
[31] Imam Abi Hamid al Ghazali, Ihya Ulummuddin,  juz III,,, hlm. 78.
[32] Yahya Jaya, Spiritualisme Islam Dalam menumbuhkankembangkan Kepribadian dan Kesehatan Mental (Jakarta: Ruhana, 1994), hlm. 54.
[33] Jacques Veuger, Psikologi Perkembangan, Epistemologi Genetik dan Strukturalisme menurut Jean Piaget, (Yogyakarta: Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi, 1983), hlm. 9.
[35] Ibid.
[36] Ibid.
[37] Ibid.
[38] Ibid.
[39] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 93.
[40] Wasty Sumanto, Psikologi Pendidikan: Landasar Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 121.
[41] Ibid,,, hlm. 123. Lebih lanjut Piaget menyatakan bahwa cara berfikir anak bukan hanya kurang matang dibandingkan dengan orang dewasa karena kalah pengetahuan, tetapi juga  berbeda secara kualitatif. Lihat  Fatimah Ibda, Perkembangan Kognitif: Teori Jean Piaget, dalam  Jurnal Intelektual, Vol. 3, No. 1.  Januari-Juni 2015, hlm. 29.
[42] Behavioral adalah sikap/tingkah laku kita sehari-hari. Kadang-kadang, sikap ini dibentuk oleh latar belakang keluarga, pendidikan, media yang kita konsumsi. Behavior juga merupakan ekspresi dari karakter seseorang. Lihat https://www.babla.co.id/bahasa-inggris-indonesia/behavior diakses pada 3/29/2018.
[43] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan: Suatu Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), hlm. 108-109.
[44] Saiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2005), hlm.1
[45] Asri Budianingsih dalam Nadyana Rizqi, Konsep Belajar dalam Pandangan Islam dan Barat Serta Aplikasinya dalam Pembelajaran Pendidikan Islam, (Malang: UIN Malang, 2008), hlm. 105.
[46] Wasty Sumanto, Psikologi Pendidikan: Landasar Kerja Pemimpin Pendidikan,,, hlm. 130.
[47] Matt Jarvis, Teori-teori Psikolog: Pendekatan Modern Untuk Memahami Perilaku, Perasaan dan Pikiran Manusia, (Bandung: Nusamedia, 2009), hlm. 142.
[48] Wasty Sumanto, Psikologi Pendidikan: Landasar Kerja Pemimpin Pendidikan,,, hlm. 123.
[49] Ibid,,, hlm. 124.
[50] Fungsi organisasi yaotu berupaka kecakapan seseorang/organism dalam menyusun proses-proses pisis dan psikis dalam bentuk sistem yang koheren. Sedangkan fungsi adaptasi yaitu adapatasi individu terhadap lingkungannya, yang terbagi menjadi dua yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi proses penggunaan struktur atau kemampuan individu untuk menghadapi maslah dalam lingkungannya, sedangkan akomodasi proses perubahan respon individu terhadap stimuli lingkungan. Lihat Fatimah Ibda, Perkembangan Kognitif: Teori Jean Piaget,,, hlm 31-32.
[51] Matt Jarvis, Teori-teori Psikolog: Pendekatan Modern Untuk Memahami Perilaku, Perasaan dan Pikiran Manusia,,, hlm. 148.
[52] Wasty Sumanto, Psikologi Pendidikan: Landasar Kerja Pemimpin Pendidikan,,, hlm. 132.
[53] Matt Jarvis, Teori-teori Psikolog: Pendekatan Modern Untuk Memahami Perilaku, Perasaan dan Pikiran Manusia,,, hlm. 148.
[54] Ibid,,, hlm. 149.
[55] Ibid,,, hlm. 149-150.
[56] Wasty Sumanto, Psikologi Pendidikan: Landasar Kerja Pemimpin Pendidikan,,, hlm. 133.
[57] Mujamil Qomar dalam Nadyana Rizqi, Konsep Belajar dalam Pandangan Islam dan Barat Serta Aplikasinya dalam Pendidikan Agama Islam,,, hlm. 132.
[58] Aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat, kegunaan maupun objek yang dipikiran tersebut.
[59] Epistemologi adalah teori pengetahuan, yang membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang dipikirkan.
[60] Ibid,,, hlm. 133.