Sabtu, 19 November 2016

Peran Ulama dalam meningkatkan pendidikan Islam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di Indonesia, sejarah pendidikan diawali dari sejarah pendidikan Islam. Pendidikan Islam berkembang di berbagai lokal Nusantara, melalui institusi-institusi yang dikembangkan oleh ulama dan elit agama. Pendidikan Islam yang berkembang lebih awal ini secara langsung atau tidak langsung di Indonesia tidak terjadi kekosongan sistem pendidikan yang begitu lama. (Hanani, 2013:154) Kalangan yang terdidik di institusi pendidikan Islam memainkan peranan penting dalam membangun nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan di samping menjadi agen pendidikan itu sendiri. Dalam konteks ini perlu dimaknai dan dipahami, bahwa pendidikan keagamaan merupakan pendidikan awal dari bangsa Indonesia yang saat ini berpenduduk 240 juta jiwa. Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamal ajaran agamanya (M. Bashori Muchin, 2010). Oleh sebab itu, pendidikan keagamaan tidak dapat dipungkiri sebagai salah satu pendidikan yang membangun identitas atau karakteristik kebangsaan negara yang multikultural. Hal ini dapat dibuktikan dari sejarah Pancasila sebagai pembangun nasional Indonesia. Jika Pancasila dibangun bukan atas pengaruh pendidikan keagamaan yang telah mengakar di Indonesia, tidak akan lahir identitas negara yang berfalsafah seperti itu. Namun, perjalanan building identitas kebangsaan ini mengalami pemaknaan yang pasang surut. Pemaknaan yang melebar dari lingkaran-lingakaran falsafah tersebut. Persoalan kebangsaan saat ini adalah bangsa ini tengah kehilangan karakteristiknya seperti yang dibangun dalam Pancasila. Kehilangan karakteristik ini ditandai oleh berbagai persoalan bangsa hingga terjadinya krisis multidimensi (Hanani, 2013:154). Apakah krisis ini sebagai salah satu kesalahan dari sistem pendidikan membangun bangsa ke arah yang lebih beradab? Padahal, semestinya dalam usia bangsa yang sudah merdeka lebih dari 71 tahun, Indonesia menjadi sebuah negara yang memiliki karakteristik yang beradab, sejahtera dan berkeadilan. Oleh sebab itu, bangsa ini harus kembali mengedepankan pembangunan kararkteristik kebangsaannya yang dicita-cita oleh pendiri bangsa kembali sehingga bangsa ini tidak terjatuh ke dalam ketidakberhasilan. Maka, dalam konteks ini pendidikan kegamaan terutama pendidikan Islam sebagai salah satu pendidikan yang sudah terbukti menjadi salah satu agen transformasi sosial yang berhasil meletakkan dasar kebangsaan harus mengambil peran lebih luas kembali. Pendidikan juga mempunyai peran penting dalam membentuk kehidupan publik, selain itu juga diyakini mampu memainkan peranan yang signifikan dalam membentuk politik dan kultural. Dengan demikian sebagai media untuk menyiapkan dan membentuk kehidupan sosial, sehingga akan menjadi basis institusi pendidikan yang sarat akan nilai-nilai idiealisme. (M. Agus Nuryanto, 2008: 81) Maka, dalam hal ini masyarakat turut serta memikul tanggung jawab pendidikan. Secara sederhana mayarakat dapat diartikan sebagai kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kebudayaan dan agama. Setiap masyarakat mempunyai cita-cita, peraturan-peraturan dan sistem kekuasaan tertentu. Masyarakat, besar pengaruhnya dalam memberi arah terhadap pendidikan anak, terutama para pemimpin masyarakat atau penguasa di dalamnya. Pemimpin masyarakat muslim tentu saja menghendaki agar anak dididik menjadi anggota yang taat dan patuh menjalankan agamanya, baik dalam lingkungan keluarganya, anggota sepermainannya, kelompok kelasnya dan sekolahnya. (Zakiah Darajat, 2011: 45) Maka, dengan demikian jelaslah bahwa tanggung jawab dalam Islam bersifat perseorangan dan sosial. Selanjutnya siapa yang memiliki syarat-syarat tanggung jawab ini tidak hanya bertanggung jawab terhadap perbuatanya dan perbaikan dan perbaikan dirinya, tetapi juga bertanggung jawab terhadap perbuatan orang-orang yang berada di bawah perintah, pengawasan, tanggungannya dan perbaikan masyarakatnya. Ini berlaku atas diri pribadi, istri, bapak, guru, golongan lembaga-lembaga pendidikan dan pemerintah. Siti Rochmatul Fauzyiah (2014:8) mengemukakan bahwa tokoh agama memilki peran strategis sebagai agen perubahan sosial maupun pembangunan. Ada tiga peran penting yang dapat dijalankan oleh tokoh agama yaitu peran edukasi yang mencakup seluruh dimensi kemanusiaan dan membangun karakter bangsa. Kedua peran memberi pencerahan kepada masyarakat di saat situasi-situasi yang tidak menentu, dan ketiga peran membangun sistem, satu tradisi, budaya yang mencerminkan kemuliaan. Oleh karena itulah para pemuka agama dituntut terus menggali dan memantapkan kembali etika kehidupan yang relegius dan bermartabat di tengah-tengah tantangan global. Banyak tantangan dan permasalahan yang harus diperbaiki yang memerlukan tokoh agama untuk mengatasinya, mulai dari perbaikan di bidang ekonomi, hukum, pendidikan, sosial, politik, budaya dan moralitas bangsa. Adapun permasalahan yang perlu diperhatikan adalah krisis moral dan etika yang keduanya mempengaruhi berbagai bidang kehidupan lainnya. Seperti telah disebutkan di atas bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, yakni masyarakat dan pemimpin masyarakat, dan juga orang tua. Dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan agama Islam maka dalam hal ini peran tokoh agama akan memiliki peran lebih dominan dibandingkan dengan yang lain. Bero Jaya Timur adalah sebuah desa yang ada di lingkungan Kabupaten Musi Banyu Asin yang turut mendukung misi menjadikan Musi Banyu Asin sebagai kota santri di Sumatra Selatan. Meski tidak banyak Pondok Pesantren di desa tersebut namun para tokoh agama setempat mencoba menghidupkan nilai-nilai pendidikan Islam di desa tersebut misalkan mendirikan pondok pesanteren, membangun TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), mengajar membaca Al-Qur’an baik di rumah-rumah maupun masjid dan mushala, pengajian di peringatan hari besar Islam, menjadi penengah politik kampung, sebagai motivator masyarakat agar belajar di pondok pesantern dan masih banyak lagi. Dugaan ini berdasarkan grand tour penulis dengan kepala desa dan masyarakat setempat pada tanggal 01 November 2015 hal ini ditambah dengan adanya kesempatan penulis yang bertempat tinggal di desa tersebut. Maka, dengan adanya peran serta tokoh agama dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam tentu saja hal ini memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pencerahan dalam berbagai bidang yang dikuasai oleh tokoh agama. Namun hal ini tentu akan jadi masalah jika persoalan modernitas yang telah berkembang dengan pesat sehingga banyak mengubah pola pikir masyarakat yang tidak mau menggunakan nilai-nilai pendidikan Islam sebagai acauan guna membentuk masyarakat yang madani. Oleh karena itu menjembatani pola pikir masyarakat yang semakin radikal maka dibutuhkan peran yang dari tokoh agama untuk menghapuskan hal tersebut. Tokoh agama dianggap orang yang lebih berkompeten dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam pada masyarakat, hal ini karena figur tokoh agama tetap dianggap sebagai orang yang dihormati disetiap elemen masyarakat. Maka berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peran ulama dalam mengembangkan pendidikan akhlak pada remaja di desa Bero Jaya Timur kecamatan Tungkal Jaya kabupaten Musi Banyu Asin Sumatera selatan”. B. Fokus Penelitian Untuk lebih mengarahakan pembahasan maka penulis perlu memfokuskan penelitian tersebut yaitu peningkatan pendidikan agama Islam terutama peningkatan pendidikan akhlak oleh ulama yang difokuskan kepada para remaja, hal ini dikarenakan pendidikan akhlak merupakan permasalahan yang penting apabila masalah tersebut tidak segera dipecahkan dengan penelitian, maka akan menimbulkan masalah yang baru, dan akan kehilangan kesempatan untuk mengatasinya. C. Rumusan Masalah Bertolak dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan, dapat ditegaskan bahwa isinya masalah pokok selanjutnya dirinci menjadia pertanyaan sebagai berikut: 1. Mengapa ulama merasa perlu ikut meningkatkan pendidikan akhlak di desa Bero Jaya Timur? 2. Apa kendala yang dihadapi ulama dalam meningkatkan pendidikan akhlak di desa Bero Jaya Timur? 3. Upaya apa yang dilakukan ulama dan pihak desa dalam meningkatkan pendidikan akhlak di desa Bero Jaya Timur? D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah: a. Ingin mengetahui bagaimana peran tokoh agama dalam meningkatkan nilai pendidikan agama Islam di desa Bero Jaya Timur. b. Ingin mengetahui kendala yang dihadapi tokoh agama dalam meningkatkan pendidikan agama Islam di desa Bero Jaya Timur. c. Ingin mengetahui upaya yang dilakukan tokoh agama dalam meningkatkan pendidikan agama Islam di desa Bero Jaya Timur. 2. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut a. Kegunaan Teoritis 1) Sebagai sumbangan pemikiran dari penulis untuk digunakan dengan sebaik mungkin di desa Bero Jaya Timur. 2) Untuk menambah ilmu pengetahuan bagi penulis dalam dunia pendidikan yang berkenaan dengan pentingnya pendidikan akhlak. b. Kegunaan praktis Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S1) pada jurusan Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Jambi.

 Hanya ada satu negara yang pantas untuk ku yaitu Indonesia (Surat untuk Bung Hatta)











Bapak, hari ini Indonesia bisa dikatakan sedang menangis, di umur negri yang semakin menua ini negri ini masih bingung hendak berjalan kemana. Perjuanganmu di masalalu seolah mulai tertelan waktu, bahkan mungkin kini anak-anak sekolah sudah tidak lagi mengenalmu, bisa dikatakan kami mengenalmu hanya sebatas sebagai wakil presiden pertama negri ini. Dan mungkin seandainya namamu tidak tertulis di teks prokalamasi kami sama sekali tidak mengenalmu.
Bapak, negri ini pun semakin banyak orang yang tidak bermoral. Banyak sekali masalah negri ini, mulai dari permasalahan sosial, pendidikan dan lain sebagainya. Bapak engkau pernah mengatakan “Hanya ada satu Negara yang pantas menjadi negaraku ia tumbuh dengan perbuatan dan itu adalah perbuatanku (Mohammad Hatta)”. Namun kenyataannya perbuatan para pemimpin negri ini bertolak belakang dengan perbuatanmu, korupsi di nergi ini pun semakin tidak terbendung, masing-masing saling mencuri hak orang lain, aku tidak tahu ini berawal dari mana, namun yang pasti ini bukan perbuatanmu, tidak terbayang oleh ku sewaktu engkau memimpin negri ini mendampingi Bung Karno dulu, engkau tidak meminta bahkan memberi. Bersama para pahlawan lainya bukan hanya buah pikiran yang engkau berikan bahkan harta dan nyawa sekalipun rela kau berikan untuk satu kata bagi negri ini yaitu Merdeka.
Bapak, anak bangsa negri ini pun semakin tidak karuan moralnya, mulai dari pergaulan bebas, minuman keras, narkotika sepertinya itu bukan hal yang aneh didengar. Bahkan hal ini bertambah parah dengan tingkah orang tua dan anaknya yang tega menghajar guru, menjebloskan guru penjara, aku tidak tau bagaimana masa depan anak bangsa ini jika hal ini masih terus terjadi.
Tepat pada tanggal 1 Desember 1956 engkau mengundurkan diri dari jabatan presiden, dan ketika engakau pindah rumah ada pemandangan menarik dari kisahmu yang ku baca yakni engkau lebih memilih mendahulukan buku-bukumu dari perabotan rumahmu, semangat mencari dan mengahormati ilmu ini juga mulai pudar dari negri ini, perpustakaan pun mulai sepi dari semangat membaca. Anak muda kini lebih suka cara instan yang tinggal buka internet copy paste tanpa mau bersusah payah terlebih dahulu.

Bapak, aku ingin jujur kepadamu tapi ku harap engaku jangan marah sampai saat ini aku pun tidak tahu dimana engakau dimakamkan, bahkan mungkin bukan Cuma diriku para kalangan pemudapun sebagian besar tidak tahu engaku dimakamkan dimana. Maafkan kami yang tidak tau diri ini bapak, maafkan kami yang tidak tau berterima kasih, kami tidak tahu berterima kasih atas jasa perjuanganmu bersama para pahlawan lainnya. Maafkan kami yang bahkan belum bisa menjaga amanah yang kau berikan untuk menjaga negri ini. Maafkan kami bahkan tidak mengerti cara mengahargai jasa-jasamu. Maafkan kami bapak proklamator, maafkan kami. Maafkan kami.

Jumat, 12 Agustus 2016

Tips mendapatkan beasiswa

Nama: Syahrizal Afandi
Judul : Beasiswa dan tips memperolehnya
Undang-undang Dasar Negara Indonesia telah mengamanatkan tentang upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa setiap warga Negara usia sekolah mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi harus mengenyam pendidikan. Kenyataannya banyak warga negara usia sekolah tersebut yang tidak dapat mengenyam pendidikan, lebih-lebih pendidikan tinggi.Banyak komentar yang disuarakan masyarakat tentang ketidak berdayaannya menyekolahkan anak karena terkendala oleh biaya pendidikan.Pemerintah telah berupaya untuk mengurangi angka putus kuliah bagi mahasiswa yang berprestasi tinggi dengan alasan ekonomi. Untuk mendukung langkah tersebut, mahasiswa sebagai agen pembaharuan bangsa perlu mendapat pembinaan yang terus menerus. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua mahasiswa mengikuti proses dan perubahan pembelajaran secara linear. Adakalanya mahasiswa mempunyai prestasi tinggi, tetapi terhambat proses studinya.Di lain pihak ada mahasiswa yang putus di tengah perjalanan studinya karena alasan ketiadaan biaya. Menyadari hal ini, penting kiranya dicarikan jalan keluar bagi mahasiswa yang mempunyai kendala ekonomi dan atau geografis.Untuk menghindari peluang mahasiswa mengundurkan diri dari proses studi,langkah strategis yang tepat adalah memberikan bantuan biaya pendidikan berupa pemberian beasiswa.Sekalipun usaha ini belum dapat menjangkau setiap mahasiswa, tetapi diharapkan dapat memperkecil angka kegagalan studi dengan alasan ekonomi. Keberhasilan dari bantuan beasiswa kepada mahasiswa bukan Diukur dari terserapnya dana yang telah dialokasikan, melainkan dilihat dari tercapainya bantuan pembiayaan studi itu bagi mahasiswa yang betul-betul memerlukan. Pada gilirannya dapat dilihat adanya kemanfaatan dari pemberian beasiswa itu, sehingga prestasi akademiknya terus meningkat.Beasiswa pada umumnya merupakan pemberian biaya untuk pendidikan bagi mahasiswa yang masih aktif mengikuti perkuliahan di suatu perguruan tinggi.
Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia beasiswa adalah pemberian berupa bantuan keuangan yang diberikan kepada perorangan yang bertujuan untuk digunakan demi keberlangsungan pendidikan yang ditempuh. Beasiswa dapat diberikan oleh lembaga pemerintah, perusahaan ataupun yayasan. Pemberian beasiswa dapat dikategorikan pada pemberian cuma-cuma ataupun pemberian dengan ikatan kerja (biasa disebut ikatan dinas) setelah selesainya pendidikan. Lama ikatan dinas ini berbeda-beda, tergantung pada lembaga yang memberikan beasiswa tersebut.
Sementara jenis beasiswa itu sendiri bermacam-macam. Jenis beasiswa yang ada diberikan kepada mahasiswa yaitu beasiswa berprestasi yang berekonomi mampu dan beasiswa berprestasi kurang mampu dalam segi ekonomi.Beasiswa dapat diberikan oleh lembaga pemerintah, perusahaan atapun yayasan. Sumber beasiswa yang ditawarkan di Indonesia sangat beraneka ragam salah satu yang diberikan oleh perusahaan yaitu, PT Djarum. Beasiswa Djarum merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) bernama Djarum Bakti Pendidikan. Program ini merupakan pemberian beasiswa kepada mahasiswa berprestasi, yang mengalami keterbatasan finansial. Dan salah satu contoh beasiswa yang diberikan oleh pemerintah adalah beasiwa Bidikmisi.Pemberian beasiswa merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu dan kulitas pendidikan di Indonesia karena dengan adanya bantuan ini mahasiswa maupaun pelajar yang kurang mampu untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dapat melanjutkan pendidikannya.
Secara sederhananya untuk bisa memperoleh beasiswa ada beberapa hal yang harus anda penuhi, meliputi nilai akademis yang bagus, catatan personal yang bersih, dan lain sebagainya. Setidaknya seseorang yang berharap atau sedang mengajukan program beasiswa haruslah memiliki criteria persyaratan yang diperlukan. Tanpanya, maka tidak mungkin yang bersangkutan berkesempatan untuk bisa mendapatkan beasiswa dari instansi manapun.
Berikut beberapa tips dan cara agar anda mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan jenjang pendidikan anda:
1.    Doa dan persiapkan diri
Perlu ditekankan bahwa anda tidak boleh hanya melulu berusaha tanpa doa, kalau kata Ustadz Yusuf Mansur berdoa dulu agar Tuhan menunjukkan kemana arahnya untuk kita berusaha. Dan juga persiapkan diri, ini meliputi banyak hal antara lain: nilai akademis, personality yang baik, dan juga aktif, hal ini tentu bisa menunjang anda menjadi pertimbangan untuk mendapatkan beasiswa tersebut.
2.    Rajin mencari informasi
Nah ini juga penting, mencari informasi baik dari teman, media cetak maupun media sosial. Karna yang perlu di ingat adalah bahwa rejeki harus di jemput bukan tiba-tiba datang sendiri.
3.    Jaga dan tingkatkan  nilai akademis
Seperti yang ditekankan pada poin 1 persiapan diri meliputi nilai akademis, biasanya baik instansi apapun memiliki kriteria tertentu dalam mensyaratkan nilai IPK. Hal ini tentu sesuai dengan jurusan yang anda tempuh. Akan lebih baik jika IPK anda bisa mencapai 3 bahkan lebih, hal ini tentu peluang anda untuk mendapatkan beasiswa lebih terbuka.
4.    Meningkatkan kemampuan berbahasa asing
Bagi anda yang ingin mendapatkan beasiswa baik di luar maupun dalam negri hal ini tentu menjadi prioritas juga, karena hal ini bisa jadi pertimbangan bagi anda nantinya baik selama perkuliahan maupun sesudahnya. dan juga jika kita mampu berbahasa asing jaringan komunikasi anda juga akan semakin meluas dan ini tentunya memudahkan anda untuk mencari informasi tentang beasiswa bukan hanya yang ada dalam negri.
5.    Aktif dalam organisasi
Anda juga harus aktif dalam organisasi karena disana anda akan memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan beasiswa dari sumber tertentu, misalnya beasiswa pendidikan maupun beasiswa dari kampus anda sendiri.
Berikut beberapa tips untuk anda mendapatkan beasiswa. Beasiswa adalah lahan empuk agar menjadi mandiri dan agar terus menerus untuk berusaha terutama dalam menggapai impian dengan cara apapun terutama dengan beasiswa yang dapat dimanfaatkan.