Hanya ada satu negara yang pantas untuk ku yaitu Indonesia (Surat untuk Bung Hatta)
Bapak, hari ini
Indonesia bisa dikatakan sedang menangis, di umur negri yang semakin menua ini
negri ini masih bingung hendak berjalan kemana. Perjuanganmu di masalalu seolah
mulai tertelan waktu, bahkan mungkin kini anak-anak sekolah sudah tidak lagi
mengenalmu, bisa dikatakan kami mengenalmu hanya sebatas sebagai wakil presiden
pertama negri ini. Dan mungkin seandainya namamu tidak tertulis di teks
prokalamasi kami sama sekali tidak mengenalmu.
Bapak, negri
ini pun semakin banyak orang yang tidak bermoral. Banyak sekali masalah negri
ini, mulai dari permasalahan sosial, pendidikan dan lain sebagainya. Bapak
engkau pernah mengatakan “Hanya ada satu Negara yang pantas menjadi negaraku ia
tumbuh dengan perbuatan dan itu adalah perbuatanku (Mohammad Hatta)”. Namun
kenyataannya perbuatan para pemimpin negri ini bertolak belakang dengan
perbuatanmu, korupsi di nergi ini pun semakin tidak terbendung, masing-masing
saling mencuri hak orang lain, aku tidak tahu ini berawal dari mana, namun yang
pasti ini bukan perbuatanmu, tidak terbayang oleh ku sewaktu engkau memimpin
negri ini mendampingi Bung Karno dulu, engkau tidak meminta bahkan memberi.
Bersama para pahlawan lainya bukan hanya buah pikiran yang engkau berikan
bahkan harta dan nyawa sekalipun rela kau berikan untuk satu kata bagi negri
ini yaitu Merdeka.
Bapak, anak
bangsa negri ini pun semakin tidak karuan moralnya, mulai dari pergaulan bebas,
minuman keras, narkotika sepertinya itu bukan hal yang aneh didengar. Bahkan hal
ini bertambah parah dengan tingkah orang tua dan anaknya yang tega menghajar
guru, menjebloskan guru penjara, aku tidak tau bagaimana masa depan anak bangsa
ini jika hal ini masih terus terjadi.
Tepat pada
tanggal 1 Desember 1956 engkau mengundurkan diri dari jabatan presiden, dan
ketika engakau pindah rumah ada pemandangan menarik dari kisahmu yang ku baca
yakni engkau lebih memilih mendahulukan buku-bukumu dari perabotan rumahmu,
semangat mencari dan mengahormati ilmu ini juga mulai pudar dari negri ini,
perpustakaan pun mulai sepi dari semangat membaca. Anak muda kini lebih suka
cara instan yang tinggal buka internet copy paste tanpa mau bersusah payah
terlebih dahulu.
Bapak, aku ingin jujur kepadamu tapi
ku harap engaku jangan marah sampai saat ini aku pun tidak tahu dimana engakau
dimakamkan, bahkan mungkin bukan Cuma diriku para kalangan pemudapun sebagian
besar tidak tahu engaku dimakamkan dimana. Maafkan kami yang tidak tau diri ini
bapak, maafkan kami yang tidak tau berterima kasih, kami tidak tahu berterima
kasih atas jasa perjuanganmu bersama para pahlawan lainnya. Maafkan kami yang
bahkan belum bisa menjaga amanah yang kau berikan untuk menjaga negri ini.
Maafkan kami bahkan tidak mengerti cara mengahargai jasa-jasamu. Maafkan kami
bapak proklamator, maafkan kami. Maafkan kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar