Sabtu, 19 November 2016


 Hanya ada satu negara yang pantas untuk ku yaitu Indonesia (Surat untuk Bung Hatta)











Bapak, hari ini Indonesia bisa dikatakan sedang menangis, di umur negri yang semakin menua ini negri ini masih bingung hendak berjalan kemana. Perjuanganmu di masalalu seolah mulai tertelan waktu, bahkan mungkin kini anak-anak sekolah sudah tidak lagi mengenalmu, bisa dikatakan kami mengenalmu hanya sebatas sebagai wakil presiden pertama negri ini. Dan mungkin seandainya namamu tidak tertulis di teks prokalamasi kami sama sekali tidak mengenalmu.
Bapak, negri ini pun semakin banyak orang yang tidak bermoral. Banyak sekali masalah negri ini, mulai dari permasalahan sosial, pendidikan dan lain sebagainya. Bapak engkau pernah mengatakan “Hanya ada satu Negara yang pantas menjadi negaraku ia tumbuh dengan perbuatan dan itu adalah perbuatanku (Mohammad Hatta)”. Namun kenyataannya perbuatan para pemimpin negri ini bertolak belakang dengan perbuatanmu, korupsi di nergi ini pun semakin tidak terbendung, masing-masing saling mencuri hak orang lain, aku tidak tahu ini berawal dari mana, namun yang pasti ini bukan perbuatanmu, tidak terbayang oleh ku sewaktu engkau memimpin negri ini mendampingi Bung Karno dulu, engkau tidak meminta bahkan memberi. Bersama para pahlawan lainya bukan hanya buah pikiran yang engkau berikan bahkan harta dan nyawa sekalipun rela kau berikan untuk satu kata bagi negri ini yaitu Merdeka.
Bapak, anak bangsa negri ini pun semakin tidak karuan moralnya, mulai dari pergaulan bebas, minuman keras, narkotika sepertinya itu bukan hal yang aneh didengar. Bahkan hal ini bertambah parah dengan tingkah orang tua dan anaknya yang tega menghajar guru, menjebloskan guru penjara, aku tidak tau bagaimana masa depan anak bangsa ini jika hal ini masih terus terjadi.
Tepat pada tanggal 1 Desember 1956 engkau mengundurkan diri dari jabatan presiden, dan ketika engakau pindah rumah ada pemandangan menarik dari kisahmu yang ku baca yakni engkau lebih memilih mendahulukan buku-bukumu dari perabotan rumahmu, semangat mencari dan mengahormati ilmu ini juga mulai pudar dari negri ini, perpustakaan pun mulai sepi dari semangat membaca. Anak muda kini lebih suka cara instan yang tinggal buka internet copy paste tanpa mau bersusah payah terlebih dahulu.

Bapak, aku ingin jujur kepadamu tapi ku harap engaku jangan marah sampai saat ini aku pun tidak tahu dimana engakau dimakamkan, bahkan mungkin bukan Cuma diriku para kalangan pemudapun sebagian besar tidak tahu engaku dimakamkan dimana. Maafkan kami yang tidak tau diri ini bapak, maafkan kami yang tidak tau berterima kasih, kami tidak tahu berterima kasih atas jasa perjuanganmu bersama para pahlawan lainnya. Maafkan kami yang bahkan belum bisa menjaga amanah yang kau berikan untuk menjaga negri ini. Maafkan kami bahkan tidak mengerti cara mengahargai jasa-jasamu. Maafkan kami bapak proklamator, maafkan kami. Maafkan kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar