BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Belajar
adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha
pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan.
Sehingga suatu proses, belajar selalu mendapat tempat yang luas dalam disiplin
ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan.
Pemikiran-pemikiran
baik dari Islam dan Barat selalu menjadi kajian menarik dalam dunia pendidikan.
Salah satunya adalah al Ghazali dan Jean Piaget. Al Ghazali adalah sosok yang
dekat dengan pendidikan hal ini terbutki dengan karena dirinya sempat menjadi
tenaga pendidik di Universitas Nizom Andalusia. Sedangkan Jean Piaget adalah
sosok tokoh yang lahir di abad 20 an dan memiliki pemikiran yang menarik untuk
dikaji. Salah satu yang menjadi nilai dari Piaget adalah kemampuannya
mengembangkan pemikiran Gestalt tentang teori kognitif. Maka, hal demikianlah
yang membuat penulis tertarik untuk mengkaji dua pemikiran dari dua kubu yang
berbeda.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan
masalah bertujuan guna membatasi pembahasan dalam makalah ini, agar pembahasan
yang dilakukan tidak melebar:
1.
Bagaimana
hakikat belajar secara umum?
Pembahasan ini
meliputi pengertian dan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam belajar.
2.
Bagamaina
konsep belajar dari al Ghazali dan Jean Piaget?
Pembahasan ini
meliputi Biografi dan pemikiran-pemikiran dari kedua pihak dalam pendidikan
3.
Bagaimana
Komparasi konsep belajar Islam dan Barat?
Pembahasan ini
meliputi perbandiangan konsep belajar Islam dan Barat secara umum dan
perbandingan konsep belajar dari al Ghazali dan Jean Piaget.
BAB
II
HAKIKAT
BELAJAR
A.
Pengertian Belajar
Sebagian
orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafal
fakta-fakta yang tersajikan dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Orang yang
beranggpan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika anak-anaknya
telah mampu menyebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagaian besar informasi
yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh guru.[1]
Disamping
itu pula, ada pula sebagian orang yang memandang belajar sebagai latihan belaka
seprti yang tampak pada latihan membaca ndan menulis. Berdasarkan persepsi
semacam ini, biasanya mereka akan merasa cukup puas bila anak-anak mereka telah
mampu memperlihatkan keterampilan jasmaniah tertentu walaupun tanpa pengetahuan
menganai arti, hakikat dan tujuan keterampilan tersebut.
Untuk
menghindari ketidaklengkapan presepsi tersebut, penulis mencoba melengkapi
sebagian dar defisni mengenai belajar dengan komentar dan interpretasi
seperlunya.
Menurut
seorang ahli pendidikan, Dimyati Mahmud bahwa belajar adalah suatu perubahan
dalam diri seseorang yang terjadi karena pengalaman. Dalam hal ini juga
ditekankan pada pentingnya perubahan tingkah laku, baik yang dapat diamati
secara langsung maupun tidak.[2]
Sejalan dengan pendapat tersebut Lyle E. Bourne, JR dan Bruce R. Ekstrand
mendefinisikan belajar dengan “learning as a relatively permanent change in
behavior traceable to experience and practice” Belajar adalah perubahan
tingkah laku yang relatif tetap yang diakibatkan oleh pengalaman dan latihan.[3]
Sementara
menurut Mustofa Fahmi sebagaimana dikutip juga oleh Muhibin Syah dalam bukunya Psikologi
Pendidikan, mengatakan:[4]
ان التعلم عبارة عن عملية تغيير اوتحويل فى السلوك اوالخبرة
“Sesunggugnya belajar adalah (ungkapan yang menunjukkan)
aktivitas (yang menghasilkan) perubahan-perubahan tingkah laku atau pengalaman”
Reber
dalam kamus susunannya yang tergolong modern, Dictionary of Psychology
membatasi belajar dengan dua macam difinisi.[5]
Pertama, belajar adalah the process of acquiring knowledge, yakni proses
memperoleh pengetahuan. Pengertian ini biasanya lebih sering dipakai dalam
pembahasan psikologi kognitif yang oleh sebagian ahli dipandang kurang
representative karena tidak mengikutsertakan perolehan keterampilan nonkognitif.
Kedua,
belajar adalah A relatively permanent change in repons potentiality which
occurs as a result of reinforced practice, yaitu suatu perubahan kemampuan
bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat. Dalam
definisi ini terdapat empat macam istilah yang esensial dan perlu disoroti
untuk memhami proses belajar.
1.
Relatively
permanent, yang secara umum menetap.
2.
Reponse
potentiality, kemampuan bereaksi
3.
Reinforced,
yang diperkuat
4.
Practice,
praktik atau latihan.
Dengan
demikian dapat disimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan sikap atau
tingkah laku dikarenakan pengalaman yang didapatkannya dari informasi/materi.
Perubahan tersebut meliputi keterampilan jasmani, isi ingatan, cara berfikir
serta laun-lain yang berkenaan dengan aspek psikis dan fisik.
B.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Menurut uraian H.C Witherington dan Lee J. Cronbach Bapemsi
sebagaimana dinyatakan oleh Mustaqim dalam bukunya Psikologi Pendidikan
mengatakan faktor-faktro serta kondisi-kondisi yang mendorong perbuatan belajar
bisa diringkas sebagai berikut:
1.
Situasi belajar
(kesehatan jasmani, keadaan psikis, pengalaman dasar).
2.
Penguasaan
alat-alat intelektual
3.
Latihan-latihan
yang terpencar,
4.
Penggunaan
unit-unit yang berarti,
5.
Latihan yang
aktif,
6.
Kebaikan bentuk
dan sistem,
7.
Efek
penghargaan (reward) dan hukuman,
8.
Tindakan-tindakan
pedagogis,
9.
Kapasitas
dasar.[6]
Sementara Nini Subini membagi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
proses belajar seseorang dalam tiga kategori, yakni faktor internal (dalam),
faktro eksternal (luar) maupun faktor kecenderungan belajar, masing-masing
faktro-faktor tersebut meliputi:
1.
Faktor Internal
a.
Kesehatan dan
cacat tubuh,
b.
Intelegensi
(kecerdasan),
c.
Bakat dan
minat,
d.
Kematanga
(kesiapan)
e.
Motivasi,
f.
Kelelahan,
g.
Perhatian dan
sikap (perilaku).
2.
Faktor
Eksternal
a.
Faktor
Keluarga,
· Cara mendidik anak
· Relasi antar anggota keluarga
· Suasana rumah
· Keadan ekonomi keluarga
· Pengertian orang tua
· Latar belakang kebudayaan
b.
Faktor Sekolah
· Guru
· Metode mengajar
· Instrument/fasilitas
· Kurikulum sekolah
· Relasi guru dengan anak
· Relasi antar anak
· Disiplin sekolah
· Pelajaran dan waktu
· Standar pelajaran
· Kebijakan penilaian
· Keadaan gendung
· Tugas rumah
c.
Faktor
Masyarakat
· Kegiatan anak dalam masyarakat
· Teman bergaul
· Bentuk kehidupan dalam masyarakat
Bertolak dari pendapat diatas, penulis dapat menarik sebuah
kesimpulan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yang dalam hal ini
penulis bagi menjadi dua kategori yakni faktor internal dan faktor eskternal
yang melipui sebagai berikut.
1.
Faktor
Internanl
Yang
dimaksud faktor internal adalah faktor individu yang sedang melakukan belajar.
Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan psikologis. Berikut akan
diuraikan masing-masing dari faktro internal.
a.
Faktor
Fisiologis
Faktor fisiologis adalah faktor yang disebabkan oleh keadaan fisik
dari orang yang sedang belajar yang dalam hal ini adalah aspek jasmani meliputi
kesehatan, kelelahan dan lain sebagainya. Kesehatan merupakan salah satu hal
penting yang menetukan aktivitas sehari-hari, begitu juga halnya dengan
belajar. Kondisi fisik yang baik akan berpengaruh positif dalam kegiatan
belajar, begitu pula sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan
mengahambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Bagaimana seseorang dapat
belajar dengan baik apabila kesehatan tubunya tidak mendukung?.
Kekurangan gizi biasanya mempunyai pengaruh terhadap keadaan
jasmani, mudah mengantuk, lekas lelah, lesu dan sejenisnya terutama bagi
anak-anak yang usianya masih mudah, pengaruh in sangat menonjol. Faktor
kelelahan juga dapat menyebabkan seseorang tidak bisa belajar secara optimal,
meskipun memiliki semangat yang tinggi untuk belajar.
Kelelahan pada seseorang dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu
kelelahan jasmani dan rohani (bersifat psikis). Kelelahan jasmani terlihat
dengan lemahnya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh.
Kelelahan jasmani terjadi karena kekacauan subtansi sisa pembakaran di dalam
tubuh, sehingga darah menjadi tidak atau kurang lancer pada bagian-bagian
tertentu.
Adapun kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan
kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.
Kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala dengan pusing-pusing sehingga
sulit berkosentrasi.[7]
b.
Faktor
Psikologis
Faktor psikologis dalam hal ini meliputi motivasi, perhatian,
kecerdasan dan lain-lain.
1.
Motivasi
Motivasi
merupakan perilaku konatif sebagai sumber dinamika yang menentukan
kualitas kekuatan perilaku.[8]
Motivasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menimbulkan atau meningkatkan
motif.[9]
Motivasi terbagi menjadi dua yaitu motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsi.
Motivasi intrinsik adalah semua faktor yang berasal dari dalam diri individu
dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu, seperti gemar membac yang
tidak perlu diperintah dan lain sebagainya. motivasi intrinsic memiliki
pengaruh yang lebih efektif , karena motibasi intrinsic memiliki pengaruh yang
lebih efektif, karena sifatnya lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi
luar ekstrinsik. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah daktor yang datang dari
luar diri individu tetapi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar. Seperti
pujian, perarturan, tata tertib, teladan guru, orang tua dan lain sebagainya.[10]
2.
Perhatian
Perhatian
adalah pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang
ditunjukkan kepada suatu objek atau kepada sekumpulan objek-objek, perhatian
juag adalah merupakan penyeleksian terhadap stuimuli yang diterima oleh dindividu
yang bersangkutan. Perhatin dapat didefinisikan sebagai proses pemusatan
phase-phase atau unsure-unsur pengalaman dan mengabaikan yang lainnya.[11]
Perhatian
dan sikap dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak
senang baik pada perfrma guru, pelajaran atau lingkungan sekitarnta. Dan untuk
mengantisipasi munculnya sikap negative dalam belajar, menjadi tuga guru untuk
menjadi professional dan bertanggungjawab terhadap profesi pilihannya. Dengan
profesionalitas, seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik bagi anak
didiknya, berusaha mengembangkan kepribadian sebagai seorang guru uang empatik,
sabar dan tulus. Guru akan berusaha menyajikan pelajarannyang diampunya secara
baik dan menarik sehingga membuat anak dapat mengikuti pekajaran dengan senang
dan tidak menjemukan, menyakinan siswa bahwa bidang studi yang dipelajari
bermanfaat bagi diri siswa.
3.
Intelegensi
(Kecerdasan)
Intelegensi
merupakan interaksi aktif antara kemampuan yang dibawa sejak lahir dengan
pengalaman uang diperileh dari lingkungan yang menghasilkan kemampuan individu
untuk memperoleh, mengingat dan menggunakan pengetahuan, mengerti makna dari
konsep konkret dan ide dan kemampuan dalam menerapkan semua hal tersebut untuk
memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.[12]
Berdasarkan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Heller, Mons dan Passow yang dikutip oleh
Nini Subini, dkk dalam bukunya Psikologi Pembelajaran menyatakan bahwa orang
yang memiliki intelegensi tinggi belum tentu tidak mengalami gangguan dalam
belajar. Bahkan hasil penelitian yang dilakukkan oleh Golemen menyatakan bahwa
setinggi-tinggi IQ seseorang hanya menyumbangkan kurang lebih 20% terhadap
kesuksesan hidup seseorang dan 80%-nya ditentukan oleh faktor lain.
Faktor
yang dapat mempengaruhi kecerdasan, sehingga terdapat perbedaan kecerdasan
seseorang dengan yang lain ialah:
a.
Pembawaan:
pembawaan ditentukan oelh sifat dan cirri-ciri yang dibawa sejak lahir. “Batas
kesanggupan kita” yakni dapat tidaknya memecahkan suatu soal.
b.
Kematangan:
tiap organ dalam tubuh mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ
(fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia tleha mencapai
kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing.
c.
Pembentukan:
pembentukan ialah segala keadaan diluar diri seseorang yang mempengaruhi
perkembangan intelegensi.
d.
Minat
dan pembawaan yang khas: minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan
merupakan dorongan bagi perbuatan itu.
e.
Kebebasan:
kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu
dalam memecahkan masalah-masalah.
2.
Faktor
Ekternal
Faktor
eskternal adalah yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitar pelajar,
yang meliputi
a.
Lingkungan
sosial
Lingkungan sosial baik sekolah maupun masyarakat dalam hal ini
sangat menentukan kondisi dari seorang pelajar. Lingkungan sekolah yang yang
didalam terdapat para guru, staf dan
temen-teman dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Peran guru yang
selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang empatik dan memperlihatkan suri
tauladan yang baik dan rajin dapat menjadi daya dorong yang positif bagi
belajar siswa.
Selanjutnya lingkungan masyarakat dan tetangga juga teman-teman
sepermainan dapat menjadi pengaruh bagi keadaan belajar siswa. Kondisi
lingkungan yang kumuh tentu akan menyulitkan seorang belajar untuk fokus
terhadap apa yang dipelajari.
Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar
adalah keluarga. Kondisi dan keadaan keluarga yang baik tentu akan berdampak
positif terhadap seorang anak, begitupun sebaliknya kondisi keluarga yang kacau
(broken home) tentu akam lebih banyak berdampak negatif bagi kondisi
anak.
b.
Lingkungan
nonsosial
Faktor-faktor nonsosial dalam hal ini adalah fasilifas belajar,
baik fasilitas di lingkugan sekolah maupun lingkungan keluarga. Fasilitas
sekolah yang memadai mulai dari buku-buku diperpustakaan, perlengkapan
laboratorium dan lingkungan sekolah yang nyaman anak membawa pengaruh motivasi
yang positif bagi siswa. Sebaliknya fasilitas yang kurang memadai tentu akan
berdampak kepada kemampuan hasil belajar siswa.
BAB III
ANALISIS
(Pemikiran
Konsep Belajar al-Ghazali dan Jean Piaget)
Mengingat banyaknya teori belajar
baik dari Islam maupun Barat, dalam hal ini penulis mencoba membatasi tersebut,
agar pembahasan mengenai teori belajar dapat difokuskan lebih dalam lagi. Dalam
hal ini, penulis mencoba menyajikan pemikiran al-Ghazali dan Jean Piaget dalam
teori belajarnya, karena mengingat kedua tokoh tersebut memiliki pemikiran
selalu menarik untuk di kaji.
A.
Biografi Singkat al Ghazali
Sebutan al-Ghazali bagi hujjatul Islam, al
Imam ul Jalil, bukan nama aslinya. Adapun nama sejak dari kecilnya ialah
Muhmmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad. Kemudian sesudah berumah tangga
dan mendapat seorang putera laki-laki yang bernama Hamid, maka dia dipanggilkan
“Abu Hamid”, tetapi sayang anaknya itu meninggal pada waktu kecil.[13]
Adapun
mengenai sebutan al-Ghazali ada dua pendapat yang menyatakan dalam kisah: pertama,
di nisbat dari asala nama desa tempatnya lahir, yaitu Gazalah. Sebab itu,
sebutannya ialah al-Gazali (dengan satu “z”). kedua, berasal dari
pekerjaan sehari-hari yang dihadapi dan dikerjakan oleh ayahnya, yaitu seorang
penenun dan penjual kain tenun yang dinamakan “Gazzal”, karena itu panggilannya
al-Gazzali (dengan dua “z”), sebagai sebutan penduduk Khurasan kepadanya.[14]
Ia di lahirkan pada tahun 450 H/1058 M, [15]
Mengutip
pendapat Badawi Thabana dalam Zainuddin, menulis hasil-hasil karya al-Ghazali
terdapat 47 kitab,[16]
yang penulis susun menurut kelompok ilmu pengetahuan sebagai berikut:
1.
Kelompok
Filsfata dan Ilmu Kalam, yang meliputi:
a.
Maqashid
al Falasifah
b.
Tahafut
al Falasifah
c.
Al
Iqtishod fi al-I’tiqad
d.
Al
Munqid min al-Dhalal
e.
Al
Maqashidul Asna fi Ma’ani Asmillah al-Husna
f.
Faishalut
Tafriqah bainal Islam waz Zindiqah
g.
Al
Qishasul Mustaqim
h.
Al-Musthadhiri
i.
Hujjatul
Haq
j.
Mufsilul
Khilaf fi Ushuluddin
k.
Al
Muntahal fi ‘Ilmi Jidal
l.
Al
Madhnun bin ‘Ala Ghairi Ahlihi
m. Asraar ‘Ilmiddin
n.
Al
Arba’in fi Ushuluddin
o.
Iljamul
Awwam ‘an ‘Ilmil Kalam
p.
Al
Qulul Jamil Fir Raddi ala man Ghayaral Injil
q.
Mi’yarul
‘Ilmi
r.
Al
Intishar
s.
Isbantun
Nadlar
2.
Kelompok Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqh, yang meliputi:
a.
Al
Basith
b.
Al
Wasith
c.
Al
Wajiz
d.
Khulasatul
Mukhtashar
e.
Al
Musytasfa
f.
Al
Mankhul
g.
Syifakhul
‘Alil fi Qiyas wa Ta’lil
h.
Adz-Dzari’ah
ila Makarimis Syari’ah
3.
Kelompok
Ilmu Akhlak dan Tasawuf, yang meliputi:
a.
Ihya
‘Ulumuddin
b.
Mizanul
Amal
c.
Kimiyaus
Sa’adah
d.
Misykatul
Anwar
e.
Minhajul
‘Abidin
f.
Ad-Darul
Fakhirah fi Kasyfi Ulumil Akhirah
g.
Al-‘Ainis
fi Wahdah
h.
Al-Qurbah
Ilalahi Azza wa Jalla
i.
Akhlak
al Abrar Wan Najat Minal Asrar
j.
Bidayatul
Hidayah
k.
Al
Mabadu wa Ghayyah
l.
Talbis
al-Iblis
m. Nashihat al Mulkk
n.
Al’Ulum
al Ladunniyah
o.
Al
Risalah al Qudsiyah
p.
Al-Ma’khadz
q.
Al
Amali
4.
Kelompok
Ilmu Tafsir yang meliputi:
a.
Yaaquutut
Ta’wil fi Tafsirit Tanzil
b.
Jawahir
al-Qur’an
B. Pengertin Belajar al Ghazali
Berkaitan dengan
belajar, al-Ghazali memang tidak secara literlec mendefinisikan tentang
belajar. Namun secara umum jika dilihat dari pemikirannya Hamdani Ikhsan[17]
mengatakan al Ghazali memiliki pemikiran dan pandangan yang luas mengenai
aspek-aspek belajar. Hal in terbukti dalam salah satu karnya yakni Ihya
Ulummuddin al Ghazali memberikan bab khusus mengenai ilmu dan menempati bab
paling awal. Lebih lanjut menganai Al Ghazali memandang anak sebagai suatu
anugerah Allah dan sekaligus Amanah bagi orang tuanya.[18]
Orang tua menurut al Ghazali memegang peran penting dalam upaya mencapai
keberhasilan anak. Oleh karena itu, jika orang tua dapat melaksanakan amanah,
ia akan mendapat pahala di sisi Allah dan sebaliknya.
Al Ghazali dalam Ihya Ulummuddin menyatakan bahwa belajar adalah
wajib hukumnya.[19]
Al Ghazali mengutip hadist Rasulullah SAW yang menyatakan tuntutlah ilmu walau
sampai ke negeri Cina sekalipun.[20]
Sedangkan, berkaitan dengan tujuan belajar al Ghzali menenkankan belajar
sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Al Ghazali tidak membenarkan
belajar dengan tujuan duniawi. Dalam hal ini al Ghzali menyatakan: “Hasil dari
ilmu ilmu pengetahuan seseungguhnya adalah mendekakan diri kepada Allah, Tuhan
sekalian alam dan menghubungkan diri dengan malaikat yang tinggi dan berkumpul
dengan alam arwah. Semua itu adalah keagungan penghormatan secara naluriah.”[21]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dasar belajar al Ghazali
adalah dasar yang bersumber dari ajaran Islam, yakni al Qur’an, as Sunnah
dilengkapi dengan atsar para sahabat nabi. Adapun tujuan belajar adalah
kesempurnaan insane untuk taqarub kepada Allah yang bermuara kepada kebahagiaan
dunia dan akhirat.[22]
Pada dasarnya al Ghazali tidak melupakan kehidupan dunia, karena duni merupakan
jalan menuju akhirat yang kekal, ini tentu bagi yang memandag dunia sebagai
alat dan tinggal sementara, bukan bagi yang memandang sebagai tempat untuk
selamanya.[23]
Berdasarkan pernyata diatas di atas, ada beberapa hal yang menjadi
perhatian menarik dari al Ghazali:
1.
Belajar
dan pembelajaran adalah proses memanusiakan manusia. Prinsip in sesuai dengan
aliran psikologi humanism, yang menawarkan prinsip belajar humanistik, yaitu:
manusia mempunya kemampuan untuk belajar secara alami, belajar berarti jika
mata pelajaran sesuai dengan maksudnya sendiri, belajar akan bermakna jika
siswa melakukannya bertanggung jawab, berinisiatif, percaya diri, kreatif,
mawas diri, intropeksi dan terbuka.
2.
Waktu
belajar adalah seumur hidup, dimulai sejak lahir hingga meninggal dunia.[24]
3.
Belajar
adalah sebuah pengalihan ilmu pengetahuan.[25]
C. Prinsip-prinsip Belajar al Ghazali
Adapun prinsip-prinsip belajar menurut al Ghazali adalah sebagai
berikut:
1.
Belajar
merupakan proses jiwa.
2.
Belajar
menuntut kosentrasi.
3.
Belajar harus
didasari sikap tawadlu’.
4.
Belajar bertukar
pendapat hendaknya harus mantap dasarnya.
5.
Belajar harus
mengetahui nilai dan tujuan ilmu yang sedang dipelajari.
6.
Belajar secara
bertahap.
7.
Tujuan belajar
adalah membentuk akhlak yang mulia.[26]
D. Metode Belajar al Ghazali
Al Ghazali mengemukakan bahwa dalam mendidikan anak hendaknya
menggunakan beberapa metode. Metode yang bervarias akan membangkitkan motivasi
belajar dan bisa menghilangkan kebosanan selain itu pendidikan hendaknya
memberikan hukuman dan dorongan. Dorongan bisa dengan pujian, hadiah dan
penghargaan kepada peserta didik, sedangkan hukuman hendaknya bersifat mendidik
dengan maksud memperbaiki perbuatan yang salah agar tidak menjadi kebiasaan.[27]
Rusd Abidin[28]
membagi metode pendidikan al Ghazali menjadi dua ketegori yakni:
1.
Metode
khusus pendidikan agama
Metode
pendidikan agama menurut al Ghazali, pada prinsipnya dimulai dengan hafalan dan pemahaman, kemudian dengan
keyakinan dan pembenaran, setelah itu penegakan dalil-dalil dan keterangan yang
menunjang penguatan akidah, yang demikian ini merupakan pantulan dari merupakan
pantulandari sikap hidupnya yang sufi dan tekun beribadah. Dari pengalaman
pribadinya, al Ghazali menemukan cara untuk mencegah manusia dari keraguan
terhadap persoalan agama ialah adanya keimanan terhadap Allah, menerima dengan
jiwa yang jernih dan akidah yang pasti pada usia sedini mungkin. Kemudian
mengkokohkan dengan argumentasi yang didasarkan atas pengkajian dan penafsiran
al-Qur’an dan hadist-hadist secara mendalam disertai dengan beribadah, bukan
melalui ilmu kalam atau lainnya yang bersumber pada akal.
2.
Metode
khusus pendidikan akhlak
Uraian al
Ghazali tentang metodik praktis dan etodik khusus membentuk akhak mulia
menunjukkan bahwa untuk mengadakan perubahan akhlak tercela anak adalah
menyuruhnya melakukan perbuatan yang sebaliknya. Hal ini dapat dimengerti
karena penyakit badan atau raga, maka obatnya adalah membuang penyakit itu.
E.
Proses Belajar al Ghazali
Berkaitan dengan belajar, seorang harus memperhatikan proses
perkembangan psikologis anak, yang menurut al Ghazali terdiri dari tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Al Janin, yaitu tingkat perkembangan anak
ketika berada dalam kandungan dan setelah ditiupkan roh pada umur empat bulan.
Pada masa ini orang tua dapat mempersiapkan pembelajaran prenatal.
2. Al Thifl, yaitu tingkatan anak yang bida dicapai dengan memperbanyak latihan
dan kebiasan sehingga mengetahhi aktifitas dan perilaku yang baik dan buruk.
3. At Tamyis, yaitu tingkatan anak yang dapat
membedakan sesuatu yang baik dan buruk, bahkan lebih jauh dari itu, akalnya
telah dapat menangkap dan memagami ilmu dharuri.
4. Al ‘aqli, yaitu tingkatan yang dicapai
seseorang yang sempurna akalnya bahkan telah berkembang akalnya sehingga dapat
menguasai ilmu dharuri.
5. Al Awliya dan al Anbiya, yaitu tingkat
tertinggi dari perkembangan manusia. Pada tingkatan ini seseorang dapat
memperoleh ilmu melalui wahyu sebagaimana seorang nabi dan juga melalui ilham
dan ilmu ladunni.[29]
Berkaitan
dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan belajar, al Ghazali
cenderung memliki paham/aliran konvergensi[30].
Berakitan paham ini al Ghazali menyatakan bahwa setiap manusia lahir membawa
fitrah sebagai potensi dasar yang selanjutnya ditentukan oleh lingkungan. Oleh
karenanya orang tua diharapkan dapat mengemban amanah, sebab jiwa yang suci ini
akan berkembang sesuai dengan bimbingan orang tuanya. Manusia sejak lahi telah
dibekali dengan fitrah berupa kemampuan dasar untuk berbuat, maka sesungguhnya
manusia memiliki potensi untuk menjadi manusia berperangai baik atau perangai
buruk.[31]
Tema
sentral dari pandangan al Ghazali berkaitandengan proses belajar adalh bahwa
belajar harus diarahkan kepad upaya tazkiyah al-nafs, yang merupakan konsep pembinaan mental
spiritual, pembentukan jiwa dan mental sesuai dengan ajaran Islam. Dengan
demikian konsep tazkiyah al nafs dalam belajar ditunjukkan agar anak
mempunyai perkembanan kejiwaan yang Islami serta membentuk interaks dan
hubungan yang harmonis antara anak didik dengan sesama manusianya dan dengan
Tuhanya.[32]
Tahapan selanjutnya penulis mencoba memaparkan dari teori belajar
barat yang dalam ini penulis mencoba mensajika pemikiran dari Jean Piaget.
Berikut adalah ulasannya
A.
Biografi Jean Piaget
Nama Jean Piaget lebih sering dihubungkan dengan struktualisme dan
epistemologi genetik, barangkali lebih terkenal sebagai nama seorang tokoh
besar di bidang psikologi perkembangan.[33]
Jean Piaget dilahirkan di Neuchatel di
wilayah Swiss pada 9 Agustus 1896 yang berbahasa Prancis dan meninggal pada 16
September 1980. Ayahnya, Arthur Piaget, adalah seorang professor sastra Abad
pertengahan di Universitas Neuchatel. Piaget adalah seorang anak yang yang
teralalu cepat menjadi matang, yang mengembangkan minatnya dalam bidang Biologi
dan dunia pengetahuan alam, khusunya tentang moluska (kerang-kerangan), dan
bahkan menerbitkan sejumlah makalah sebelum ia lulus SMA. Malah kariernya yang
panjang dalam penelitian ilmiah dimulai ketika ia baru berusia 11 tahun, dengan
diterbitkannya makalah pendek pada tahun 1907 tentang burung gereja Albino.
Sepanjang kariernya, Pieaget menulis lebih dari 60 buku dan ratusan artikel.[34]
Jean Piaget memperoleh gelar Ph.D dalam ilmu alamiah dari
Universitas Neuchatel, dan juga belajar sebentar di Universitas Zurich. Selama
masa ini ia menerbitkan dua makalah yang memperlihatkan arah pemikirannya kala
itu, tetapi yang belakang ditolaknya karena dianggap karya tulis seorang anak
remaja.[35]
Jean Piaget menjabat sebagai professor psikologi di Universitas
Geneva dari 1929 sampai 1975 dan ia paling terkenal karena menyusun kembali
teori perkembangan kognitif ke dalam serangkaian tahap, memperluas karya
sebelumnya dari James Mark Baldwin, menjadi empat tahap yang kurang lebih
sama dengan (a) masa infacy, (b)
pra-sekolah, (c) anak-anak dan (d) remaja. Masing-masing tahap mewakili
pemahaman sang anak tentang realitas pada masa itu, dan masing-masing kecuali
yang terkahir adalah suatu perkiraan (approximation) tentang realitas
yang tidak memadai. Jadi perkembangan dari satu tahap ke tahap yang lainnya
disebabkan oleh akumulasi kesalahan di dalam pemahaman sang anak tentang
lingkungannya, akumulasi ini pada
akhirnya menyebabkan suatu ketidakseimbangan kognitif yang perlu ditata ulang
oleh sturuktur pemikiran.[36]
Karya-karya Jean Piaget antara lain adalah:[37]
1.
Introductioan
a I’Epistemologie Genetique
2.
La
Psychologie de I’intelegence.
3.
Logique
et connaissance scientifique
4.
The
Growth of Logical Thinking from Childhood to Adolescence.
5.
The
Early Growth of Logic in The Child: Classification and Seriation.
6.
The
Child’s Conception of the World.
7.
The
Moral Judgement of the Child.
8.
The
Origin of Intelligence in Childern.
9.
The
Child’s Construction of Reality.
10.
Biology
and Knowledge.
11.
Sociological
Studies.
12.
Studies
in Reflecting.
Karya-karya
lain:[38]
1.
Mathematical
Epistemology and Psychology.
2.
Les
Trois Structures Fondamentales de la vie Psychique: Rythme, Regulation et
groupment.
3.
Ou
va I’education?
4.
Psychology
of Intelligence.
5.
Logic
and Psychology.
6.
Play,
Dream and Imitation in Childhood.
7.
Necessite
et Signification des Recherches Comparatives en Psychologie Genetique. Journal
International de Psychologie.
8.
Structuralism.
9.
Psychology
and Epistemology: Towards a Theori of Knowledge.
10.
Insights
and Illusions of Philosophy.
11.
Experiments
in Contradiction.
12.
The
Place of the Sciences of Man in the System of Sciences.
13.
The
Origin of the Idea of Chance in Children.
14.
The
Grasp of Consciousness.
15.
Success
and Understanding.
16.
Behaviour
and Evolution.
17.
Adaption
and Intellegence.
18.
Les
Formes Elementaires de la Dialectique.
19.
Intellegence
and Affectivity. Their Relationship During Child Development.
20.
Possibility
and Necessity.
21.
Commentaru
on Vygostky. New Ideas in Psychology,
22.
Psychogenesis
and the History of Science.
23.
Towards
a Logic of Meanings.
24.
The
Psychology of the Child.
25.
The
Child’s Conception of Space.
B.
Konsep Belajar Jean Piaget
Jean
Piaget adalah seorang pakar psikologi kognitif terkemuka.[39]
Dari sini penulis dapat menarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa corak
berfikir dari Jean Piaget tidak jauh dari teori kognitif. Psikologi Kognitif
mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar “Gestalt”, sedangkan peletak dasar
Psikologi Gestalt adalah Mex Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang
pengamatan dan problem solving.[40]
Sedangkan Piaget memberikan pengembangan lebih lanjut mengenai teori belajar
kognitif yakni dengan dengan nama “Cognitve-development”, dia meneliti
mengenai tahap-tahap perkembangan pribadi serta umur yang mempengaruhi
kemampuan belajar individual.[41]
Menurut
teori kognitif belajar pada asasnya adalah persitiwa mental, bukan peristiwa
behavioral[42]
(yang bersifat jasmaniah) meskipun hal-hal yang bersifat behavioral tampak
lebih nyata dalam hampir setiap peristiwa belajar siswa. Secara lahiriah,
seorang anak yang sedang belajar membaca dan menulis, misalnya tentu
menggunakan perangkat jasmaniah (dalam hal ini mulut dan tangan) untuk
mengucapkan kata dan menggoreskan pena. Akan tetapi, perilaku mengucapkan
kata-kata dna menggorekan pena yang dilakukan anak tersebut bukan semata-mata
respons atas stimulus yang ada, melainkan yang lebih penting karen dorongan
mental yang diatur otaknya. Sehubungan dengan hal ini, Piaget menyimpulkan “children
have a built-in desire to learn”.[43]
Menurut
Piaget pendidikan adalah sebagai penghubung dua sisi, di satu sisi individu
yang sedang tumbuh dan disisi lain merupakan nilai sosial, intelektual, dan
moral yang menjadi tanggungjawab pendidik untuk mendorong individu tersebut.
Individu berkembang sejak lahir terus berkembang. Perkembangan tersebut
bersifat klausal, namun juga terdapat komponen normatif, dan juga pendidikan
yang menuntut nilai. Nilai ini juga norma yang berfungsi sebagai penunjuk dalam
mengidentifikasi apa yang diwajibkan, diperbolehkan, dan dilarang. Jadi
pendidikan adalah hubungan normatif antara individu dan nilai.[44]
C.
Proses Belajar Menurut Jean Piaget
Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan
kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari
luar ke dalam diri siswa, melainkan pemberian nama makna oleh siswa melalui
proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur
kognitifnya.[45]
Dalam hal ini Jean Piaget memandang bahwa proses berfikir sebagai aktifitas
gradual dan fungsi intelektual, dari konkret menuju abstrak.[46]
Berkenaan dengan proses belajar piaget melihat perkembangan
intelektual sebagai proses membangun model realist dalam diri. Dalam rangka
memperoleh informasi mengenai cara membangun gambaran batin tentang dunia luar,
sebagian besar masa kecil kita dihabiskan untuk aktif mempelajari diri kita
sendiri dan dunia luar. Piaget menyebutkan, dunia mental anak terdiri dari dua model
struktur, yaitu pola (schemas) dan operasi (operation).[47]
Piaget menggunakan istilah “Scheme” secara “Interchangeably”
dengan istilah struktur. Scheme adalah pola tingkah laku yang dapat
diulang. Scheme berhubungan dengan:[48]
1.
Reflek bawaan;
misalnya bernafas, makan, minum.
2.
Scheme mental;
misalnya pola tingkah laku yang sukar diamatai seperti sikap (Scheme of
classification) dan pola tingkah laku yang dapat diamati (scheme of
operation).
Sedangkan
berhubungan dengan Intelegensi Piaget mengatakan terdiri dari tiga aspek,
yaitu:[49]
1.
Struktur
disebut juga “scheme” seperti yang dikemukakan diatas.
2.
Isi
disebut juga “content” yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu
menghadapai sesuatu masalah.
3.
Fungsi
disebut juga “function” yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai
kemajuan intelektual. Fungsi itu sendiri terdiri dari dua macam fungsi “invariant”
yaitu organisasi dan adaptasi.[50]
Kesimpulannya
menurut Piaget bahwa belajar bukan hanya sebatas mengingat. Bagi siswa, untuk
benar-benar mengerti dan dapat menerapkan ilmu pengetahuan mereka harus
benar-benar memecahkan masalah, menemukan sesuatu bagi dirinya dan selalu
bergulat dengan dengan ide-ide. Maka, dalam hal ini tugas pendidik bukannya
hanya sebatas menuangkan atau menjejalkan informasi ke dalam benak siswa,
melainkan bagaimana konsep-konsep penting dan sangat berguna tersebut tertanam
kuat dalam benaknya.
D.
Tahap Perkembangan Menurut Jean Piaget
Berdasarkan
jenis kesalahan logika yang dibuat anak pada usia yang berbeda-beda, Piaget
mengemukan tahap perkembangan. Menurut
Piaget perkembangan terdiri dari empat tahap:[51]
1.
Tahap
sensorimotor: 0-2 tahun,
2.
Tahap
praoperasional: 2-7 tahun
3.
Tahap
operasional konkret: 7-11 tahun
4.
Tahap
operasional formal: 11 tahun ke atas.
Lebih
lanjut Piaget mengatakan bahwa kita semua melalui keempat tahap tersebut,
meskipun mungkin setiap tahap dilalui dalam usia yang berbeda. Setiap tahap
yang dimasuki ketika otak kita sudah cukup matang untuk memungkinkan logika
jenis baru atau operasi. Berikut adalah uraian singkat tentang jenis pemikiran
yang terjadi pada setiap tahap tersebut.
Tahap Sensorik
Bayi lahir dengan reflex bawaan,
skema modifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih
kompleks. Pada masa ini, anak belum mempunyai konsepsi tentang objek tetap. Ia
hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan inderanya.[52]
Piaget percaya, selama dua tahun pertama kehidupan kita, fokus utama kita
tertuju pada sensasi fisik dan belajar mengkoordinasikan tubuh kita.[53]
Tahap Praoperasional
Pada tahap ini pemikiran anak didasarkan pada pemikiran lambing
yang menggunakam bahasa sensasi fisik, tetapi anak belum banyak mengerti
tentatng aturan logika.[54]
Tahap Operasional Konkret
Pada tahap ini anak sudah cukup matang untuk pemikiran logika atau
operasi, tetapi hanya objek fisik yang ada saat ini. Dalam tahap ini, anak
kehilangan kecendrungannya terhadap animism dan artifisialisme. Egosentrinya
berkurang dan kemampuannya da;am tugas-tugas konservasi menjadi lebih baik.
Namun tanpa objek fisik, anak pada tahap ini masih mengalami kesulitas besar
dalam menyelesaikan tugas-tugas logika.[55]
Tahap
Operasional Formal
Pada tahap ini
anak telah mempunyai pemikiran yang abstrak pada bentuk-bentuk lebih kompleks.
Falvel sebagaiman dalam Wasty memberikan ciri sebagai berikut:[56]
a.
Pada
pemikiran anak remaja adalah hypothetico-deductive.
Ia telah dapat
membuat hipotesis-hipotesis dari suatu probelma dan membuat keputusan terhadap
problema itu secara tepat, tetapi anak kecil belum dapat menyimpulkan apakah
hipotesisnya ditolak atau diterima.
b.
Periode
propositional thinking
Remaja telah
dapat memberikan statmen atau proposisi berdasarkan pada data yang konkret.
Tetapi kadang-kadang ia berhadapan dengan proporsi yang bertentangan dengan
fakta.
c.
Periode
combinatorial thinking
Bila rema itu
mempertimbangkan tentang pemecahan problem ia telah dapat memisahkan
faktor-faktor yang menyangkut dirinya dan mengombinasi faktor-faktor itu.
BAB
IV
KOMPARASI
TEORI BELAJAR ISLAM DAN BARAT
Pada
bab ini penulis akan mencoba menyajikan mengenai komparasi teori belajar Islam
dan Barat secara umum dan juga komparasi teori belajar khusus yakni mengacu
kepada konsep belajar al Ghazali dan Jean Piaget. Berikut adalah ulasannya:
A.
Komparasi Antara Konsep Belajar Islam dan Barat
Pengetahuan
yang dalam padangan Islam diistilah dengan al-‘ilmu, yang mempunyai pengertian:
pertama, pengetahuan yang berasal dari wahyu Allah untuk mengenalnya, kedua
pengetahuan yang diperoleh manusia itu sendiri, baik melalui pengalaman
(empiris), rasional dan intuisi. Sedangkan pengetahuan dalam pandangan Barat
adalah suatu fakta empiris atau gagasan rasional yang dibangun oleh individu
itu sendiri melalui pengalamannya.[57]
Dari
dua pandangan diatas, maka dapat diketahui bahwa pengetahuan dalam Islam tidak hanya mengakui bahwa ilmu harus
dibuktikan secara empiris dan rasio, melainkan juga terdapat pengetahuan yang
bersifat transenden yang tidak dapat dijangkau indera maupun akal manusia. Hal
ini tentu saja berbeda dengan pandangan Barat, yang mana pengatahuan Barat
bersifat rasional empiris, artinya pengetahuan harus dapat dibuktikan secara
empiris dan dapat diterima oleh rasio manusia.
Ilmu
pengetahuan di dunia Islam bersifat aksiologi[58].
Islam tidak mengehendaki keterpisahan ilmu dan sistem nilai, seperti yang
terjadi di Barat, ilmu adalah fungsional ajaran wahyu. Islam meletakkan wahyu
sebagai paradigma agamawi yang mengakui eksistensi Tuhan, tidak hanya sebatas
keyakinan semata, tetapi diterapkan dalam kontruksi ilmu pengetahuan. Islam
menolak science for science dan menghendaki terlibatnya moralitas dalam
pencarian kebenaran ilmu. Sedangkan ilmu pengetahuan di Barat lebih menekankan
dimensi epistemologi[59].
Filsafat ilmu menekankan pada proses atau metode ilmiah yang dilewati sebagai
sarana untuk mencapai kebenaran. Asumsinya, kebenaran sangat tergantung kepada
metode yang digunakan untuk sampai kepada pengetahuan yang absah, sehingga
metode yang digunakan pun harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.[60]
Berdasarkan
penjelasan diatas, maka konsep belajar Islam dan Barat adalah sebagai berikut:
|
No
|
Aspek
|
Konsep
Belajar Islam
|
Konsep
Belajar Barat
|
|
1.
|
Konsep
Belajar
|
Prose
pencarian pengetahuan dengan mengoptimalkan potensi (fitrah) yang
termanifestasi dalam perbuatan demi terbentuknya insan kamil.
|
Perubahan
tingkah laku atau watak yang menetap sebagai hasil pengalaman dan latihan
bukan karena proses pertumbuhan dan kematangan
|
|
2.
|
Tujuan
Belajar
|
Tercapainya
tujuan hidup manusia, yaitu: mendekatkan diri kepada Allah dan mampu
mengaktualisasikan potensi diri demi kemaslahatan bersama (sebagai khalifah)
|
Untuk
memecahkan masalah
|
|
3.
|
Sasaran
belajar
|
Aspek
kognitif, afektif, psikomotorik dan spiritual
|
Hanya
terpusat pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik
|
|
4.
|
Makna
teori belajar
|
Sekumpulan
prinsip dan gejala yang berkaitan dengan peristiwa belajar yang tidak hanya
bersifat empiris kuantitaif tetapi juga normatif kualitatif
|
Sekumpulan
prinsip dan gejala yang berkaitan dengan peristiwa belajar yang bersifat
empiris-materialistik-kuantitatif.
|
|
5.
|
Pandangan
tentang belajar
|
a.
Konsep
belajar akhlak adalah pembentukan perilaku yang mulia melalui taqlid dan
ta’wid.
b.
Konsep
belajar fikr adalah pencarian pengethaun dan kebenaran yang mampu menerobos
dunia ukhrawi.
c.
Konsep
belajar insaniyah adalah pembelajaran dengan kebebasan yang bertanggung
jawab.
|
Perbuatan
mental hanya bersifat duniawi
|
|
6.
|
Pandangan
tentang peserta didik
|
Peserta
didik bersifat baik, aktif, dan dinamis serta punya kebebasan untuk
mengaktualisasikan fitrahnya dengan tetap memperhatikan etika dalam belajar
sebagai wujud penghormatan pada pendidik.
|
Peserta
didik bersifat aktif yang dapat memproses informasi
|
|
7.
|
Pandangan
tentang pendidik
|
Pendidikan
berperan sebagai role model (murrabi), transfer of values (muadib), transfer
of knowledge (mu’alim) sebagai fasilitator dan motivator
|
Pendidik
sebagai fasilitator
|
|
8.
|
Sumber
pengetahuan dalam belajar
|
Sumber
pengetahuan selain kognisi adalah wahyu (al-Qur’an) dan al-Hadist
|
Sumber
pengetahuan hanya bersifat kognisi
|
|
9.
|
Perkembangan
bahas pelajar
|
Kemampuan
bahasa merupakan kemampuan manusia yang membedakan dengan makhluk lain
|
Manusia
memiliki kemampuan dan kesiapan untuk mempelajari bahasa dengan sendirinya
|
|
10.
|
Perkembangan
moral pelajar
|
Sumber
kebenaran dan kesalahan ditentukan oleh al-Qur’an dan al-Hadist
|
Kebenaran
dan kesalahan ditentukan oleh kesepakatan manusia.
|
Sumber: Nadyana
Rizqi dalam Konsep Belajar dalam Pandangan Islam dan Barat Serta Aplikasinya
dalam Pendidikan Agama Islam.
B.
Komparasi antara konsep belajar al Ghazali dan Jean Piaget
Adapun
komparasi antara konsep belajar al Ghazali dan Jean Piaget adalah sebagai
berikut:
1.
Pengerian
belajar
a.
Al
Ghazali
Belajar
merupakan proses upaya mendekatkan diri kepada Allah, dan tidak hanya melulu
untuk tujuan duniawi.
b.
Jean
Piaget
Belajar
merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan (peristiwa mental bukan
peristiwa behavioral).
2.
Metode
belajar
a.
Al
Ghazali
Al Ghazali
membagi menjadi dua strategi, yaitu: pertama, metode khusus pendidikan
agama yakni pada prinsipnya dimulai dengan
hafalan dan pemahaman, kemudian dengan keyakinan dan pembenaran, setelah
itu penegakan dalil-dalil dan keterangan yang menunjang penguatan akidah.
Kedua, metode pendidikan khusus membentuk akhak mulia menunjukkan bahwa
untuk mengadakan perubahan akhlak tercela anak adalah menyuruhnya melakukan
perbuatan yang sebaliknya. Hal ini dapat dimengerti karena penyakit badan atau
raga, maka obatnya adalah membuang penyakit itu.
b.
Jean
Piaget
Coorperative
learning. Strategi ini membuat siswa lebih mudah menemukan secara
komprehensif konsep-konsep yang sulit jika mereka mendiskusikannya dengan siswa
lain tentang masalah yang dihadapi, siswa belajar dalam pasangan-pasangan atau
kelompok untuk salinf membantu memcahkan masalah yang dihadapi.
3.
Sumber
belajar
a.
Al
Ghazali
Al Qur’an dan
Sunnah serta atsar para sahabat.
b.
Jean
Piaget
1)
Pengetahuan
mutlak diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam diri seseorang, yaitu
melalui pengalaman yang diterima panca indera.
2)
Pengetahuan
diperoleh melalui pengalaman.
4.
Proses
berfikir dalam belajar
a.
Al Ghazali
Berkaitan dengan belajar, seorang
harus memperhatikan proses perkembangan psikologis anak, yang menurut al
Ghazali terdiri dari tahapan-tahapan
sebagai berikut:
1) Al Janin
2) Al Thifl
3) At Tamyis
4) Al ‘aqli
5) Al Awliya dan al Anbiya
b.
Jean
Piaet
Berdasarkan
jenis kesalahan logika yang dibuat anak pada usia yang berbeda-beda, Piaget
mengemukan tahap perkembangan. Menurut
Piaget perkembangan terdiri dari empat tahap:
1)
Tahap
sensorimotor: 0-2 tahun,
2)
Tahap
praoperasional: 2-7 tahun
3)
Tahap
operasional konkret: 7-11 tahun
4)
Tahap
operasional formal: 11 tahun ke atas.
5.
Tujuan
belajar
a.
Al
Ghazali
1)
Upaya
mendekatakan diri kepada Allah SWT.
2)
Membina mental
spiritual dan membentuk jiwa siswa
sesuai ajaran Islam.
b.
Jean
Piaget
1)
Memotivasi
siswa bahwa belajar adalah tanggungjawab siswa itu sendiri.
2)
Mengembangkan
kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri jawabannya.
3)
Membantu siswa
untuk mengembangkan pengertian atau pemahaman konsep secara lengkap.
4)
Mengembangkan
kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
6.
Pandangan
terhadap pendidik
a.
Al
Ghazali
1) Pendidik berfungsi sebagai motivator.
2) Pendidik mempunyai peran penting dalam memperbaiki tingkah laku
peserta didik.
b.
Jean
Piaget
1) Pendidik berfungsi sebagai mediator dan fasilitator yang membantu
proses belajar murid.
2) Pendidik mempunyai peranan penting dalam kelas.
3) Pendidik tidak menuangkan/memasukkan sejumlah informasi dalam benak
siswa tetapi juga mengusahakan bagaimana konsep-konsep penting tertanam kuat
dalam benak siswa.
7.
Pandangan
terhadap peserta didik
a.
Al
Ghazali
Peserta didik
dipandangan sebagai pribadi yang perlu dibentuk, yang dalam hal ini pembentuka
harus sesuai dengan ajaran Islam.
b.
Jean
Piaget
Peserta didik
dipandang sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum
mempelajari sesuatu dan bersifat aktif (dapat mengintrepretasikan informasi ke
dalam pikirannya).
BAB
V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setelah
melakukan pembahasan di atas, perlu kiranya penulis memberikan kesimpulan atas
apa yang penulis kemukakan.
1.
Pada
hakikatnya belajar adalah proses perubahan sikap atau tingkah laku dikarenakan
pengalaman yang didapatkannya dari informasi/materi. Perubahan tersebut
meliputi keterampilan jasmani, isi ingatan, cara berfikir serta laun-lain yang
berkenaan dengan aspek psikis dan fisik. Sedangkan faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar adalah:
a.
Faktor
Internanl
· Faktor Fisiologis
· Faktor Psikologis
1)
Motivasi
2)
Perhatian
3)
Intelegensi
(Kecerdasan)
b.
Faktor
Ekternal
1)
Lingkungan
sosial
2)
Lingkungan
nonsosial meliputi fasilifas belajar, baik fasilitas di lingkugan sekolah
maupun lingkungan keluarga
2.
Konsep
Belajar al Ghazali dan Jean Piaget
a.
Al
Ghazali
Al
Ghazali berpandangan bahwa belajar pada hakikatnya adalah upaya untuk
mendekatakan diri kepada Allah, bukan untuk tujuan duniwai semata-mata.
b.
Jean
Piaget
Belajar
merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan (peristiwa mental bukan
peristiwa behavioral).
3.
Perbandingan
paling mendadasar antara teori belajar Islam dan Barat adalah pada tujuan dari
belajar itu sendiri. Kencenderungan dalam kosep belajar Islam adalah bahwa
tujuan belajar adalah bermuara kepada pengakuan sikap tunduk terhadap Tuhan dan
beribadah kepadanya. Sedangkan dalam konsep Barat bahwa tujuan belajar
semata-mata upaya mengejar materi yakni sikap keduniawian.
DAFTAR PUSTAKA
Surya,
Mohammad. Psikologi Guru: Konsep dan
Aplikasi, Bandung: Alfabeta, 2013.
Abidin,
Ibnu Rusd. Pemikiran al Ghazali Tentang Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 1998.
Ahmad,
Zainal Abidin. Riwayat Hidup Imam al-Ghazali, Jakarta: Bulan Bintang,
1975.
Al
Ghazali, AbU Hamid. Ihya Ulummuddin wa bi dhaylih kitab al mughni ‘an
hamal al asfar fi al asfar,, Beirut: Dar al Fikr.
https://www.babla.co.id/bahasa-inggris-indonesia/behavior
diakses pada 3/29/2018.
Ibda,
Fatimah. Perkembangan Kognitif: Teori Jean Piaget, dalam Jurnal Intelektual, Vol. 3, No.
1. Januari-Juni 2015.
Ikhsan,
Hamdani Ikhsan dan Fuad .Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: CV. Pustaka
Setia, 2001.
Jamaris,
Martini. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, Bogor: Ghalia
Indonesia, 2013.
Jarvis,
Matt. Teori-teori Psikolog: Pendekatan Modern Untuk Memahami Perilaku,
Perasaan dan Pikiran Manusia, Bandung: Nusamedia, 2009.
Jaya,
Yahya. Spiritualisme Islam Dalam menumbuhkankembangkan Kepribadian dan
Kesehatan Mental. Jakarta: Ruhana, 1994.
Khairani,
Makmun. Psikologi Belajar, Yogyakarta: Aswaja Presindo, 2013.
Makmun,
Konsep Pengajaran Antara al Ghazali dan Jhon Dewey, Malang: UIN Malang,
2008.
Muhajir,
Asa’ril .Studi Komparasi Pemikiran Al Ghazali dan Jhon Lock Tentang
Pendidikan Anak, dalam Jurnal Dinamika, Vol. No. 2m Oktober, 2003.
Mustaqim.
Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012
Reber,
Arthur. The Penguin Dictionary of Psychology, Penguin Book: London,
2001.
Rizqi,
Nadyana. Konsep Belajar dalam Pandangan Islam dan Barat Serta Aplikasinya
dalam Pembelajaran Pendidikan Islam. Malang: UIN Malang, 2008.
Sagala,
Saiful. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta, 2005.
Santrock,
Jhon W. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Prenada Media, 2007.
Subini,
Nini. Psikologi Pembelajaran, Yogyakarta: Mentari Pustaka, 2012
Sumanto,
Wasty. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 1990.
Sumanto,
Wasty. Psikologi Pendidikan: Landasar Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta:
Rineka Cipta, 1998.
Syah,
Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999.
Syah,
Muhibbin. Psikologi Pendidikan: Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1995.
Veuger,
Jacques. Psikologi Perkembangan, Epistemologi Genetik dan Strukturalisme
menurut Jean Piaget. Yogyakarta: Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi, 1983.
Woolfok,
Anita E. Educational Psychology, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Zainuddin
dkk. Seluk-beluk Pendidikan dari al-Ghazali, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
KOMPARASI TEORI BELAJAR ISLAM DAN BARAT
(Telaah Terhadap Konsep Belajar Imam al Ghazali
dan Jean Piaget)
MAKALAH TEORI
PEMBELAJARAN
Dosen Pengampu: Dr.
Mahmud Arief, M. Ag

SYAHRIZAL AFANDI
NIM. 1720401007
MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2018
[1] Muhibin Syah,
Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
1995), hlm. 89.
[2] Dimyati Mahmud
dalam Nini Subini, Psikologi Pembelajaran, (Yogyakarta: Mentari Pustaka,
2012), hlm. 83.
[3] Lyle E.
Bourne, JR, Bruce RE dalam H. Mustaqim, Psikologi Pendidikan,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 33.
[4] Mustofa Fahmi,
Ibid,,, hlm. 34.
[5] Reber dalam
Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Baru,,, hlm. 91.
[6] HC.
Whiterington, Lee. J. Cronbach Bapesmi dalam H. Mustaqim, Psikologi
Pendidikan,,, hlm. 70
[7] Nini Subini
dkk, Psikologi Pembelajaran,,, hlm. 90.
[8] Mohammad
Surya, Psikologi Guru: Konsep dan Aplikasi, (Bandung: Alfabeta, 2013),
hlm. 50.
[9] Motif merupakan
sumber kekuatan perilaku yang mendorong terjadi perilaku, dalam hal ini motif
adalah motor penggerak dinamika perilaku individu dalam mencapai tujuan. lihat
Mohammad Surya, Psikologi Guru: Konsep dan Aplikasi,,, hlm. 50-52.
[10] Nini Subini
dkk, Psikologi Pembelajaran,,, hlm. 88-89. Lihat juga Anita E. Woolfok,
Educational Psychology, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 227. Dalam
pengertian yang lain motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk
mendpatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan), sedangkan motivasi
ekstrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi (tujuan itu
sendiri), lihat Jhon W. Santrock, Psikologi Pendidikan, (Jakarta:
Prenada Media, 2007), hlm. 514.
[11] Makmun
Khairani, Psikologi Belajar, (Yogyakarta: Aswaja Presindo, 2013), hlm. 154.
Bila dilihat dari sedikitnya kesadaran yang menyertai aktivtas, perhatian
dibedakan menjadi dua yaitu, perhatian intensif dan perhatian tidak intensif,
sedangkan bila ditinjau dari timbulnya perhatian dibedakan menjadi perhatian
spontan dan perhatian reflektif, bila dipandang dari luasnya objek, perhatian
bisa dibagi menjadi perhatian konserfatif dan perhatian distributif, lihat H.
Mustaqim, Psikologi Pendidikan,,, hlm. 72-73.
[12] Martini
Jamaris, Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, (Bogor: Ghalia
Indonesia, 2013), hlm. 91.
[13] Zainal Abidin
Ahmad, Riwayat Hidup Imam al-Ghazali, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975),
hlm. 27.
[14] Ibid,,, hlm.
28.
[15] Zainuddin dkk,
Seluk-beluk Pendidikan dari al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991),
hlm. 7.
[16] Ibid,,, hlm.
19. Dalam keterangan lain Dr. Badawi Thabana menyatakan ada sekitar 300 buah
karangan al-Ghazali, namun hanya beberapa yang dapat diselamatkan, dikarenakan
mengamuknya bangsa Mongol pada abad ke-13 di Andalusia. Lihat Zainal Abidin
Ahmad, Riwayat Hidup Imam al-Ghazali,,, hlm. 58.
[17] Hamdani Ikhsan
dan Fuad Ikhsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia,
2001), hlm. 235.
[18] Lihat QS.
Al-Anfal [8]: 28. QS. Al-Kahfi [18]: 46. QS.
Al-Furqan [25]: 74. QS. At
Taghaabun [64]: 14.
[19] Hal tersebut
berdasarkan hadist.طلب العم فريضة
على كل مسلم lihat
Imam Abi Hamid al Ghazali Ihya Ulummuddin wa bi dhaylih kitab al mughni ‘an
hamal al asfar fi al asfar,, (Beirut: Dar al Fikr), hlm. 23.
[20] Ibid,,, hlm 23.
[21] Ibid,,,
hlm. 13
[22] Makmun, Konsep
Pengajaran Antara al Ghazali dan Jhon Dewey, (Malang: UIN Malang, 2008),
hlm. 102.
[23] Imam Abi Hamid
al Ghazali, Ihya Ulummuddin, juz
III,,, hlm. 12.
[24] Al Ghazali
memberikan perhatian khusus untuk mencapai keberhasilan anak, menurutnya orang
tua sebagai pembelajar anak yang pertama memulai prosesnya pembelajaranya
sebelum anak itu lahir, lebih lanjut al Ghazali mengungkapkan dalam Adab al
Mu’asyarah (adab pergaulan suami istri) memberikan perhartian mengenai hubungan
suami istri yang benar menurutu sunnah Rasul, lihat Imam Abi Hamid al Ghazali, Ihya
Ulummuddin, juz II,,,hlm. 43.
[25] Definisi
tersebut adalah pendapat Arthur Reber, yang menjembatani dua kutub aliran
belajar yaitu kaum kognitis dan behavioris. Lebih lanjut lihat Arthur Reber, The
Penguin Dictionary of Psychology (Penguin Book: London, 2001).
[26] Al Ghazali
menyebutkan akhlak mulia dengan al Munjiyat, yaitu segala sifat terpuji yang
membawa keselamatan bagi yang memimilikinya baik di dunia maupun di akhirat.
Sedangkan kebalikannya, ia sebut al Mukhlikat,
yaitu akhlak tercela yang membawa orang yang memimilikinya kepada kehancuran
dan kebinanasan. Lihat Imam Abi Hamid al
Ghazali, Ihya Ulummuddin, juz
I,,, hlm. 53.
[27] Ali
al-Jumbulati dalam Makmun, Konsep Pengajaran Antara al Ghazali dan Jhon Dewey,,,hlm.
110.
[28] Ibnu Rusd
Abidin, Pemikiran al Ghazali Tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
1998), hlm. 89
[29] Asa’ril
Muhajir, Studi Komparasi Pemikiran Al Ghazali dan Jhon Lock Tentang
Pendidikan Anak, dalam Jurnal Dinamika, Vol. No. 2m Oktober, 2003,
hlm. 204.
[30] Aliran
konvergensi adalah aliran yang menyakini bahwa perkembangan pada anak
dipengaruhi oleh faktor hereditas/pembawaan dan lingkungan. Dalam hal ini
pembawaan menumbuhkan fungsi-fungsi dan kapasitas itu. Baik stimuli lingkungan
berinteraksi saling mempengaruhi untuk menimbulkan proses pertumbuhan dan
perkembanga. Lihat Wasti Sumanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka
Cipta, 1990), hlm. 61.
[31] Imam Abi Hamid
al Ghazali, Ihya Ulummuddin, juz
III,,, hlm. 78.
[32] Yahya Jaya, Spiritualisme
Islam Dalam menumbuhkankembangkan Kepribadian dan Kesehatan Mental
(Jakarta: Ruhana, 1994), hlm. 54.
[33] Jacques
Veuger, Psikologi Perkembangan, Epistemologi Genetik dan Strukturalisme
menurut Jean Piaget, (Yogyakarta: Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi, 1983),
hlm. 9.
[35] Ibid.
[36] Ibid.
[37] Ibid.
[38] Ibid.
[39] Muhibbin Syah,
Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 93.
[40] Wasty Sumanto,
Psikologi Pendidikan: Landasar Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta:
Rineka Cipta, 1998), hlm. 121.
[41] Ibid,,,
hlm. 123. Lebih lanjut Piaget menyatakan bahwa cara berfikir anak bukan hanya kurang
matang dibandingkan dengan orang dewasa karena kalah pengetahuan, tetapi
juga berbeda secara kualitatif.
Lihat Fatimah Ibda, Perkembangan
Kognitif: Teori Jean Piaget, dalam Jurnal
Intelektual, Vol. 3, No. 1.
Januari-Juni 2015, hlm. 29.
[42] Behavioral
adalah sikap/tingkah laku kita sehari-hari. Kadang-kadang, sikap ini dibentuk
oleh latar belakang keluarga, pendidikan, media yang kita konsumsi. Behavior
juga merupakan ekspresi dari karakter seseorang. Lihat https://www.babla.co.id/bahasa-inggris-indonesia/behavior diakses pada
3/29/2018.
[43] Muhibbin Syah,
Psikologi Pendidikan: Suatu Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
1995), hlm. 108-109.
[44] Saiful Sagala,
Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2005), hlm.1
[45] Asri
Budianingsih dalam Nadyana Rizqi, Konsep Belajar dalam Pandangan Islam dan
Barat Serta Aplikasinya dalam Pembelajaran Pendidikan Islam, (Malang: UIN
Malang, 2008), hlm. 105.
[46] Wasty Sumanto,
Psikologi Pendidikan: Landasar Kerja Pemimpin Pendidikan,,, hlm. 130.
[47] Matt Jarvis, Teori-teori
Psikolog: Pendekatan Modern Untuk Memahami Perilaku, Perasaan dan Pikiran
Manusia, (Bandung: Nusamedia, 2009), hlm. 142.
[48] Wasty Sumanto,
Psikologi Pendidikan: Landasar Kerja Pemimpin Pendidikan,,, hlm. 123.
[49] Ibid,,,
hlm. 124.
[50] Fungsi
organisasi yaotu berupaka kecakapan seseorang/organism dalam menyusun
proses-proses pisis dan psikis dalam bentuk sistem yang koheren. Sedangkan
fungsi adaptasi yaitu adapatasi individu terhadap lingkungannya, yang terbagi
menjadi dua yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi proses penggunaan struktur
atau kemampuan individu untuk menghadapi maslah dalam lingkungannya, sedangkan
akomodasi proses perubahan respon individu terhadap stimuli lingkungan. Lihat
Fatimah Ibda, Perkembangan Kognitif: Teori Jean Piaget,,, hlm 31-32.
[51] Matt Jarvis, Teori-teori
Psikolog: Pendekatan Modern Untuk Memahami Perilaku, Perasaan dan Pikiran
Manusia,,, hlm. 148.
[52] Wasty Sumanto,
Psikologi Pendidikan: Landasar Kerja Pemimpin Pendidikan,,, hlm. 132.
[53] Matt Jarvis, Teori-teori
Psikolog: Pendekatan Modern Untuk Memahami Perilaku, Perasaan dan Pikiran
Manusia,,, hlm. 148.
[54] Ibid,,, hlm.
149.
[55] Ibid,,, hlm.
149-150.
[56] Wasty Sumanto,
Psikologi Pendidikan: Landasar Kerja Pemimpin Pendidikan,,, hlm. 133.
[57] Mujamil Qomar
dalam Nadyana Rizqi, Konsep Belajar dalam Pandangan Islam dan Barat Serta
Aplikasinya dalam Pendidikan Agama Islam,,, hlm. 132.
[58] Aksiologi
adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat, kegunaan maupun objek
yang dipikiran tersebut.
[59] Epistemologi
adalah teori pengetahuan, yang membahas tentang bagaimana cara mendapatkan
pengetahuan dari objek yang dipikirkan.
[60] Ibid,,,
hlm. 133.